Minggu, 22 Januari 2012

Tentangmu yang Selalu Manis

Secangkir black coffee sudah menemaniku sejak tadi sambil menunggumu di meja ini. Meja kecil di dekat jendela, di dalam kafe favorit kita dulu.

Aku melihatmu masuk lalu melambaikan tangan ke arahku.


“Hai, Mel. “, sapaku.

“Hai, Ndre.”, jawabmu.

Pelayan datang lalu kamu memesan vanilla latte, masih sama seperti dulu. Sepertinya kamu selalu suka dengan minuman itu, karena tiap ke kafe ini, kamu paling sering memesan minuman itu.


Sementara pelayan membuatkan pesananmu, kita terdiam dalam jeda yang lama.

“Apa kabarmu?”, aku bertanya mencoba memecahkan keheningan yang kaku.

“Baik.. Kamu kapan datang dari Jakarta, Ndre?”, tanyamu.

“Kemarin sore. Kamu sibuk apa sekarang?”


Lalu mengalirlah percakapan antara kita. Sesekali kamu tertawa, tawa yang dulu selalu aku rindukan sejak kita tidak pernah lagi berjumpa. Tapi kita tak pernah membahas luka lama lagi. Aku takut melukaimu, dan kamu mungkin takut melukaiku.


Hari beranjak sore, kamu pamit sebelum memberikan sebungkus kado untukku.

“Isinya buku, aku harap kamu masih suka baca Sherlock Holmes seperti dulu.”, kita berjabat tangan lalu kamu pergi.


Aku penasaran apa isi dibalik sampul putih polos tersebut.

Isinya sebuah buku Sherlock Holmes yang terbaru, dan sepucuk surat dalam amplop warna biru.


Hai Ndre,

Maaf bila akhirnya aku terpaksa menulis surat bukannya berani ngomong langsung ke kamu. Aku tahu masa lalu kita berakhir dengan perih, dan aku yang menyebabkan luka itu di hatimu.

Saat itu aku tak siap menerima kehadiranmu yang meminta lebih dari sekadar menjadi sahabatku. Aku sadar bahwa aku menyayangimu, namun aku masih merasa butuh waktu untuk memikirkan pernyataan cintamu.

Dan ternyata aku terlalu lama meminta waktu. Dua bulan setelah itu, kamu pergi ke Jakarta. Meninggalkan aku yang masih terombang-ambing dalam perasaanku sendiri. Saat itu aku berharap aku bisa lebih tegas pada diriku sendiri. Agar diantara kita tidak ada bayang-bayang luka.

Kamu pergi dan bahkan tidak memberi kabar untukku. Sampai kemarin malam, ketika kamu mengirimkan pesan ke ponselku mengajakku bertemu hari ini.

Ketika kamu pergi dariku, aku baru sadar betapa aku selama ini beruntung memilikimu. Benarlah pepatah yang mengatakan bahwa kita tidak pernah tahu betapa pentingnya sesuatu yang kita miliki sampai itu pergi. Segala hal yang ada di sekelilingku mengingatkan tentangmu yang selalu manis.

Sekarang setelah kamu kembali, masih adakah kesempatan untukku memilikimu? Cinta yang dulu kau nyatakan padaku apakah masih berlaku?

Kabari aku, Ndre. Aku mencintaimu.


Aku menutup surat itu. Mengapa harus sekarang, pikirku.


Sebuah pesan masuk di ponselku.


Besok aku berangkat naik penerbangan paling pagi biar cepet ketemu kamu, Mas. Jemput di Adi Soemarmo ya! I Love You. – Dina.


Mengapa sekarang, ketika aku sudah punya tambatan hati yang sebenarnya?



@alvina13 #15HariNgeblogFF hari kesebelas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar