Jumat, 13 Januari 2012

Dag dig dug

Aku merapikan rambutku sekilas sebelum turun dari mobil. Ini pertemuan pertama kami, aku harus membuat kesan yang menyenangkan terhadap mereka. Oh, lupakah aku bercerita? Ini kali pertamaku bertemu dengan calon mertua. Si Pacar sudah sejak sore memastikan aku agar hadir di makan malam bersama keluarganya ini. Bahkan ia sampai rela menjemputku segala.

“Kali ini kau harus berkenalan dengan Papa dan Mamaku, mereka pasti menyukaimu.”, ujarnya pagi tadi. Aku hanya tersenyum malu. Dalam hati ingin menolak, tapi ini sudah tawaran keempat kali dari mereka. Aku tidak mungkin lolos. Aku wajib datang.


Maka di sinilah aku, duduk di sofa yang empuk di dalam rumah yang luar biasa megah. Sial, ternyata pacarku benar-benar kaya. Coba kalau keluargaku sekaya ini.

Aku teringat Ibuk yang selalu berangkat pagi pulang malam jadi buruh di pabrik biscuit, serta dua adikku yang masih harus melanjutkan sekolah. Sedang bapakku, entah di mana dia sekarang. Terakhir memberi kabar ia sudah di tanah seberang. Menjadi TKI sejak aku masih bayi, kata Ibuk.


“Jangan sungkan-sungkan, Nak. Silakan diminum es jeruknya”, suara manis Nyonya rumah menyadarkan lamunanku.

“Iya, Tante, terima kasih.”, aku mengambil gelas itu lalu menyesap isinya.

“Bu, makan malam sudah siap. “, seorang wanita sepuh berkata kepada nyonya rumah itu. Mungkin wanita sepuh itu pembantunya.

“Terima kasih. Yuk, kita makan malam duluan. Suami saya sedang dalam perjalanan pulang, dia sebentar lagi datang.”


Dag..dig..dug..

Aku sadar, Ayah pacarku-lah yang aku takutkan. Bagaimana kalau nanti dia tidak menyukaiku? Bagaimana kalau nanti dia tahu keadaan keluargaku yang bobrok, miskin? Bagaimana kalau…

Ah sudahlah, aku makan saja dulu. Si Pacar menggandeng mesra tanganku lalu kami mengambil tempat duduk masing-masing di pinggir meja makan.

Ketika aku menyuapkan sendok pertama, terdengar suara pintu ruang tamu dibuka.

“Itu pasti Ayah,” kata Si Pacar.


Dag..dig..dug..

Suara langkah tegapnya bergema di ruangan sampai ke ruang makan. Sial, aku duduk membelakangi pintu masuk ruang makan, aku tidak dapat melihat wajahnya. Apakah dia berkumis? Bagaimana dengan rambutnya, adakah yang memutih?

Dag..dig..dug..

“Hai Yah, lihat siapa yang datang”, Si Pacar tersenyum sambil melirikku.

“Maaf, saya terlambat. ”, tangan kekar lelaki itu menepuk bahuku.

Aku berbalik.

Wajah itu.. Aku mengenalnya, aku tahu!! Fotonya masih terpampang jelas di ruang tamu rumahku saat berpose bersama Ibuku.

“Saya Ayahnya Andra. Kamu pasti Mica. “, tangannya terulur mengajakku bersalaman

Aku masih mengamati wajah itu, tidak ada yang berbeda, hanya rambutnya yang memutih. Kalah oleh usia.

Kalian ingin tahu?

Itu, ayahku!!!


@alvina13 #15HariNgeblogFF Hari kedua


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar