Sabtu, 21 Januari 2012

Senyum untukmu yang Lucu

Aku masuk diam-diam ke ruang kelasmu, rasanya senang bisa hadir kembali di sisimu setelah lama rasanya tidak mengantarkanmu sekolah.


Rambutmu hanya diikat kuda, ah, Papamu pasti tak bisa mengepang rambutmu. Karena semenjak dulu, itu pekerjaanku. Aku yang memandikanmu, memakaikan seragammu, menyisir lalu mengucir rambutmu atau sesekali mengepangnya agar tidak berantakan. Rambutmu hitam pekat seperti milik Papamu, tapi sedikit ikal sepertiku. Setelah itu aku akan mengantarkanmu sekolah yang hanya berjarak satu blok dari tempat tinggal kita.


Sudah berbulan-bulan aku tak bisa mengantarkanmu. Tidak bisa melihat senyum atau menghapus tangis ketika kamu keluar dari gerbang sekolah, seringnya diusili oleh temanmu.


Hei, seorang anak cowok menghampiri mejamu. Apa itu Doni, cowok yang pernah kau ceritakan padaku? Waktu itu kamu bilang kalau kamu menyukainya, bahkan berkata kalau sudah besar kamu akan menikahinya.

Saat itu aku tertawa, impianmu sungguh tinggi. Imajinasimu selalu melangit, entah karena hobimu yang suka membaca atau memang kamu suka bercita-cita. Aku ingat kemudian membayangkan seperti apa pernikahanmu kelak.

Kembali melihatmu adalah suatu keberkahan luar biasa untukku. Apalagi melihatmu tersenyum dikelilingi teman-temanmu. Tapi kemudian..


“Eh, Na. Nyokap lu udah mati ya? Jadi lu nggak punya nyokap lagi?”


Deg. Sebilah pisau seakan menancap di uluhatiku saat pertanyaan itu terucap dari seorang temanmu. Matamu menggenang, lalu menetes menjadi hujan. Kamu tergugu dan terisak dengan sesak.


Aku ingin menghiburmu, Nak. Memelukmu. Memberikan senyum untukmu yang lucu, agar kamu tak kembali berduka, agar kamu kembali ceria. Namun bagaimana caranya, sedangkan kamu tak bisa melihatku.


Bulan-bulan penuh pengorbanan itu, penuh perjuangan, air mata dan kesakitan yang luar biasa. Sampai akhirnya aku kalah. Aku menyerah. Kanker itu terlampau ganas hingga ia sanggup menang melawanku. Rasanya aku tak mau meninggalkanmu, melihat duka dalam mata mungilmu, mendengan ceriamu berubah jadi tangis yang tersedu.


Tapi aku selalu ada di hatimu, Nak. Aku akan selalu ada saat kamu membuka mata di pagi hari, mendengar kicau burung atau merasakan dinginnya hujan. Aku akan selalu ada saat kamu tertawa, menangis atau tersipu malu. Aku akan selalu ada di hatimu, memberikan senyum untukmu yang lucu.


Aku mendekatimu, mencoba memelukmu hingga kau merasa aman dan tak ada yang akan mengganggumu. Tak ada yang berhak mengganggu gadis kecilku yang lucu.



@alvina13 #15HariNgeblogFF hari kesepuluh *dedicated 4 my Mom. I’ll always love you*

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar