Sabtu, 14 Januari 2012

Kamu Manis, Kataku

Langit masih temaram, Jarum jam masih menunjukkan pukul 4.30 pagi. Keretaku dijadwalkan berangkat pukul 5.30, aku masih punya banyak waktu untuk memandangi wajah cantik dari balik loket. Aku duduk di salah satu deretan kursi didekat loket yang sudah buka itu. Gadis itu sudah ada di sana, melayani beberapa calon penumpang yang hilir mudik berganti.

Gadis penjual karcis kereta api tersebut selalu dapat jadwal pagi. Setiap hari Senin sampai Kamis aku selalu mengamatinya menyodorkan karcis dan sesekali uang kembalian kepada para pelanggan. Pertama kali melihatnya, aku ingin sekali berkenalan dengannya, tapi bagaimana? Pernah aku mencuri pandang ke arah label namanya yang tersemat di bajunya.

Namanya Rosie.

Baginya, aku mungkin hanya seorang pelanggan kereta api biasa sama seperti yang lainnya. Aku mungkin tidak pernah mendapat tempat spesial di hatinya. Bahkan ia tak mungkin tahu siapa namaku. Aku harus menghadirkan diriku dalam hidupnya yang nyata.

Namun bagaimana?

Aku tak mungkin mengajaknya berkenalan saat aku membeli tiket, bisa-bisa orang di antrian belakangku akan mengusirku.

Aku berpikir keras, sambil mengamati lalu lalang orang yang mulai ramai. Jam menunjukkan pukul 05.00, antrian juga sudah mulai tampak memanjang.

Aku mengambil posisi di bagian belakang antrian, biar sambil mengantri aku akan memikirkan bagaimana agar kehadiranku benar-benar nyata di dunianya.

Apa aku harus memberikan kartu namaku? (Ah itu tentu terkesan norak.)

Atau aku senyam-senyum dihadapannya? (Ini nggak bener, nanti aku dibilang gila.)

Mungkin aku akan membayar dengan uang seratus ribu agar mengulur waktu dan dapat memperkenalkan diriku padanya? (semakin gila saja ideku ini)

Antrian berjalan maju, kurang dua orang lagi giliranku. Ah, aku tahu aku akan melakukan apa.

Tiba giliranku, aku menyerahkan uang sepuluh ribu seperti seharusnya harga tiket kereta tersebut. Ketika ia mengulurkan tiket itu, aku tahu ini saatnya aku harus masuk ke dunianya.


“Kamu Manis”, kataku.

Lalu ia tersenyum, sorot matanya seakan mencoba memasukkan wajahku ke memorinya.

Aku tersenyum, tahu karena aku berhasil masuk ke dunianya.

@alvina13 #15HariNgeblogFF Hari ketiga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar