Kamis, 26 Januari 2012

Menikahlah Denganku (1)

“Kamu masih berhubungan sama Dimas, ya?”, kata Ayahku.

”Iya, Yah. Kenapa?”

”Kan Ayah sudah bilang, kuliah dulu, kerja dulu baru boleh pacaran. Lagian Si Dimas itu udah kerja apa sih? Pengangguran kan?”

Aku menahan air mata yang sudah menggenang.

”Dimas masih cari kerja, kok Yah. ”

”Jauhi dia, Ayah nggak mau kuliahmu berantakan Cuma gara-gara cowok!"


Aku masuk ke kamar setelah diceramahi Ayah lebih lama lagi. Air mata yang kubendung mulai menderas satu-satu. Ayah memang melarangku berhubungan sama Dimas, cowokku sejak semester dua kuliah. Mungkin sejak meninggalnya Ibu, Ayah jadi protektif terhadapku, putri semata wayangnya. Padahal Dimas adalah cowok baik-baik, dia kakak tingkatku di fakultas. Kami berbeda jurusan dan terpaut jarak 3 tahun.


Keesokan sore sepulang kerja di lab mengurus skripsiku yang hampir selesai, Aku mampir ke taman dekat kampus. Dimas tadi mengirimkan pesan untuk menemuinya di tempat favorit kami bercerita, di dekat kolam ikan di tengah-tengah taman.

”Gimana ngelabmu?”, tanya Dimas.

”Hampir selesai, tinggal ambil data terakhir besok pagi. Ya, masih harus olah data sih, tapi semoga nggak perlu lebih lama di lab lagi. Bosen ngeliatin labu destilasi melulu.”, kataku.

Dimas tertawa, tawa yang menyenangkan untuk didengar. Seandainya aku bisa menghentikan waktu, aku akan memilih momen ini, di saat aku tak perlu mengkhawatirkan Ayah yang keras terhadap hubunganku dengan Dimas.

”Mas, aku semalem diceramahin Ayah lagi.”

“Lagi?”, ia menghela nafas.


Lalu hening sejenak, mungkin kami bingung harus berkata apa.

”Mei, kamu serius nggak sama hubungan kita?”, dia bertanya tiba-tiba.

”Ya serius lah, kalau nggak, ngapain aku pertahanin sampai mau diceramahin Ayah hampir setiap hari.”, kataku.


”Menikahlah denganku.”

”Apa?”

”Meisya Angelina, maukah menikah denganku?”, Dimas berlutut sambil mengeluarkan sebuah cincin bermata putih dari sakunya.


Tahukah kau kawan, kecuali saat itu sadar bahwa Ayahku masih tidak merestui hubungan kami, aku bahagia sekali.

”Aku.. aku, mau. ”, kataku malu-malu.

”Tapi...”, aku ingat bagaimana mungkin Ayahku merestui hubungan kami?

”Ayahmu? Aku akan menemuinya baik-baik. Akan aku tempuh cara apapun untuk menaklukan hatinya. Kita akan menikah dengan restunya. Dia satu-satunya orangtuamu yang tersisa, aku nggak mau kamu terlalu mencintaiku lalu durhaka sama dia.”, Dimas tersenyum memelukku.


Saat itu aku ingat langit senja, warnanya jingga merona. Mungkin sama meronanya dengan wajahku. Air mata mengalir pelan di wajahku. Aku bersyukur Dimas yang melamarku, setidaknya ia tahu bagaimana caranya berbakti kepada orang tua.


Kami bergandengan tangan ke tempat kami memarkir kendaraan, aku masuk ke mobil lalu memutar sebuah lagu yang akhir-akhir ini sering kudengarkan.

Marry me Juliet, you'll never have to be alone. I Love you, and that’s all I really know. I talked to your dad, go pick out the white Dress. It is love story, baby just say yes.

“Yes, I do.”, aku berbisik sambil menyeka rintik yang jatuh lagi dari mataku. Tuhan, jika cinta ini Kau restui, mudahkan jalan kami untuk melangkah, doaku dalam hati.



@alvina13 #15HariNgeblog FF Hari kelima belas (1)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar