Senin, 30 Januari 2012

Karena aku hanya kekasihmu

Senja memerah kala itu, mentari seakan enggan masuk peraduan dan digantikan bulan. Sinarnya masih memancar, meski takdir memaksanya untuk pulang.

“Kembalilah padaku, aku membutuhkanmu”, kamu berkata pelan di telingaku.

Ini pertemuan pertama kita setelah 3 tahun lalu kamu begitu saja meninggalkanku. Setelah sakit itu, kini kamu minta kembali padaku?

“Kenapa sekarang? Istrimu tak sanggup lagi memuaskanmu?”, aku menyindirnya. Rasanya masih aku ingat kala siang itu di pelataran kampus kamu memberikan undangan pernikahan. Aku kamu tinggalkan begitu saja. Tidak tahukah kamu pandangan memelas dari para sahabat, keluargaku serta beberapa dosen yang sering menyindirku?

“Maaf, tapi aku masih mencintaimu, Nin.”, kamu menggenggam tanganku.


Sialnya aku juga masih mencintaimu. Jika banyak yang berkata bahwa cinta itu buta, maka demikianlah adanya. Aku mengangguk, mengiyakan ajakanmu. Biarlah aku menjadi kekasih gelapmu. Logika tak lagi tersangkut di dalam hatiku.


Semenjak pertemuan itu, kamu mulai sering menghubungiku. Kita bercanda dalam barisan pesan manis dan deretan ucap kata. Meski waktu memburu seperti mangsa yang dikejar massa, namun adrenalin terlalu menguasai kita.

“di luar lagi turun hujan.”, aku berbisik di telingamu kala itu. Pertemuan kesekian yang kita lakukan diam-diam.

“Lalu?”

“Setiap aku bersamamu, hujan pasti selalu turun. Kenapa ya?”

“Mungkin langit turut bersedih atas hubungan kita ini.”

“Lebih tepatnya bersedih atas penderitaanku.”, aku melepaskan pelukanmu lalu memandang wajahmu.

“Kamu sedih?”

“Aku Cuma bisa jadi kekasih gelapmu, kamu pikir aku bahagia dengan status itu, Ndre?”

Kamu terdiam lama.

“Setelah hujan pasti ada pelangi, kan?”, kamu menggandengku ke balkon kamar hotel kita saat itu.

“Terus?”

“Kata kamu tadi, setiap kita bersama, hujan selalu turun.”

“Iya. Lalu hubungannya apa?”

“Semoga saja meski kamu sekarang ini sedih. Akhir cerita kita nantinya bahagia, seperti indahnya pelangi.”

Aku tersenyum, ah kamu memang selalu suka menaburkan indahnya janji, membangkitkan manisnya kenangan.


Hari ini tadi, mendung seharian menggelayuti langit di kotaku. Sepertinya ia tahu bahwa aku dan kamu akan bertemu lagi kali ini. Merayakan tepat setahunnya hubungan kita, meski aku juga masih tak paham untuk apa merayakan hubungan yang diam-diam dibina?

“Maaf aku terlambat, langitnya gelap banget. Tadinya aku mau membatalkan pertemuan kita, tapi nggak jadi.”

“Kenapa? Kamu sudah terlalu merindukanku, ya?” , lagi-lagi kamu merayu.

Kamu memelukku, memagut dalam-dalam bibirku. Kalau saja aku bisa menghentikan waktu, aku akan membiarkan ia mengabadikan momen ini saat bersamamu.

“Ndre.”

“Hmm. Kenapa, Nin?”

Aku mulai salah tingkah, memandang wajahmu adalah sebuah anugerah tak terkira yang bisa kunikmati lagi, dan kini haruskah aku mengambil keputusan ini?

“Ndre, Aku besok pergi ke Surabaya.”

“Berapa hari?”

“Aku dipindahkan ke kantor cabang di sana.”

“Kok kamu baru bilang sekarang?”, kamu memandangku curiga.

“Aku mau kita pisah aja mulai dari sekarang.”

“Kamu… kamu apa? Minta pisah?”

“Kembalilah ke keluargamu, Ndre. Setiap kali aku berduaan denganmu, satu sisi hatiku bahagia. Tapi sisi lainnya merasa terluka. Aku nggak mau istri dan anakmu merasakan kekecewaan yang sama denganku seperti hari itu dulu. Ketika kamu tiba-tiba memutuskan hubungan kita.”


Kamu terdiam. Aku tak sanggup menahan air mata yang mengalir di wajahku. Rasanya sakit, perih memang. Namun aku tahu hubungan ini harus diakhiri.

Aku berdiri dan mengecup dahimu. Melepaskan genggam erat tanganmu.


“Aku suka bibir ini, aku suka mata ini, aku suka kamu perlakukan seperti kekasihmu, Ndre. Tapi aku sadar bukan aku yang sebenarnya menjadi pasanganmu. Meski mungkin semakin sulit melupakanmu, namun ini harus diakhiri.”

Aku berjalan membuka pintu kamar dan tak mau menoleh kembali padamu meski kamu saat itu memanggil namaku. Tahu bahwa kamu tak mengejarku, aku merasakan sesak dan sakit di dada, tapi toh tak ada guna.

Ketika keluar dari hotel, hujan sudah berhenti. Pelangi membingkai cantik langit yang mulai senja. Aku tersenyum, setelah hari ini, aku tahu semuanya akan baik-baik saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar