Selasa, 17 Januari 2012

Ada dia di matamu

Aku paling suka duduk di pinggir danau kecil ini bersamamu. Melihat bebek-bebek yang berenang, mengamati beberapa anak kecil dengan orang tua mereka yang berpiknik di bawah pohon, atau sekedar memandangi wajah cantikmu.


“Ra..”, kataku sambil membelai pipimu.

Kamu sedang melamun, aku tahu itu. Dan aku tahu apa yang kamu pikirkan.


“Eh, Dan, kita pulang yuk. Besok kan hari penting untuk kita. “, tiba-tiba kamu mengajakku pulang. Sepertinya keindahan taman ini tak berlaku lagi di matamu.

“Ayo.”, aku melangkah sedikit enggan. Inginku masih di sini, memandang wajah jelitamu sampai puas. Walau mungkin aku tak akan pernah puas mengamatimu.

Di mobil kita sejenak dalam diam. Mesin sudah aku nyalakan, tapi entah mengapa rasanya kehadiranmu tetaplah tidak utuh.

“Ra.. besok kan keluargaku mau ngelamar kamu. Kamu bahagia nggak?”, aku bertanya padamu.

“Iya, aku bahagia kok.”, jawabmu dalam senyum yang terpaksa.

“Benar? Setelah itu dalam jangka bulan ini, kita bisa mengurus semua pernak pernik pernikahan. Biasanya kan cewek yang paling suka belanja ini itu. Kamu aja yang atur ya, Ra.”, aku bersemangat menantikan hari itu.

“Serahkan ke Mama aja, Dan. “, katamu.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Rencananya besok, aku dan keluargaku akan melamarmu. Bukankah itu yang kita harapkan sejak lama? Tentu saja sebelum kamu bertemu dia. Liburan itu, ketika kamu bertemu dengan dia, lalu semenjak itu sikapmu berubah terhadapku.


Aku tahu, cepat atau lambat, aku harus mengatakan hal ini padamu.


“Ra, Aku udah tau hubungan kalian.”, aku tersenyum padamu.

Sejenak kamu terkejut, kemudian air mata mengalir di pipimu.

“Maafkan aku Dan, aku nggak tau kalo bakal begini akhirnya.”

“Cepat atau lambat kamu pasti bertemu dengannya, dan aku harusnya bersyukur karena itu terjadi sebelum rencana lamaran besok.”, aku menghapus air matamu.

“Maaf..”, katamu.


Hening sebentar, melarutkan kita dalam perasaan kita masing-masing.


“Besok aku akan ke Jakarta.”, aku tersenyum padamu.

“Lalu, rencana lamaran itu?”

“Aku nggak bisa menikahimu, Ra. Ada dia di matamu. Bukan aku.”, aku membuang pandangan darimu.

“Tapi kan keluarga besar kita sudah tau?”, Mungkin kamu takut akan malu yang mungkin tercoreng di nama ayah ibumu jika lamaran itu batal.

“Tak apa, Ra. Lamaran itu akan tetap jalan.”

Kamu terkejut, lalu menangis dengan lebih dalam.

“Tapi dia yang akan jadi calon mempelai prianya. Aku sudah berkata kepadanya dan ia sudah menyetujuinya.”


Mobil aku jalankan, sementara kamu menghapus air matamu.

“Maksudmu?", katamu

“Kamu akan menikahi adikku, Tyo, mengesahkan hubungan kalian yang selama ini diam-diam.”


Aku tersenyum padanya, meski dalam hati aku menangis. Kalau saja Tyo tidak pulang ke rumah saat liburan kemarin.. Kalau saja Kamu tidak pernah bertemu dengan Tyo, pikirku. Kalau saja begini.. kalau saja begitu.. Ah, tentu akan tetap ada “kalau saja” itu…

Gerimis perlahan turun, meski matahari masih bersinar cerah. Mungkin langit turut berduka atas cintaku.

@alvina13 #15HariNgeblogFF hari keenam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar