Minggu, 15 Januari 2012

Aku maunya Kamu, titik!

“Aku suka kamu, Ren. Aku maunya Kamu, titik!”, aku memelukmu dari belakang. Wangi parfummu selalu membuatku mabuk menginginkanmu. Kamu berbalik, menatapku, lalu tersenyum, senyum termanis yang pernah aku temui. Aku selalu suka senyummu. Sambil menyibakkan poni di dahiku, kamu merengkuh dan memagut bibirku.

Ah, hanya ini hal intim yang bisa kita lakukan berdua. Hanya di sini, bersembunyi dari dunia luar.

“Kamu tahu jawabanku, Dhin. Akupun menginginkanmu, tapi aku belum bisa memilikimu. Tunggu sampai nanti.”, kamu membelai pipiku.

Aku terdiam, selalu itu yang kamu katakan. Kamu memintaku menunggu entah sampai kapan. Tidak ada kepastian, yang kamu lakukan hanya memintaku menunggu dan menunggu. Tidak pernah ada kejelasan dalam percintaan kita.

“Kenapa kamu nggak melamarku aja? Kenapa aku harus menunggu?”, aku merengut. Aku tidak pernah menang beradu argumen denganmu, tapi setidaknya aku harus berusaha agar aku mendapatkan sedikit kejelasan yang lebih kali ini.

“Percayalah, aku ingin sekali melamarmu. “

“Bohong. Kamu menikmati hubungan kita yang diam-diam ini, kan?”, aku menjauhkan tubuhmu yang mencoba memelukku.

“Kamu selalu menciumku, memagut bibirku, merengkuhku dalam pelukmu. Semuanya kita lakukan dalam diam-diam. Dalam dusta pada semesta yang menghidupi kita. Pada dunia yang menyaksikan kita ada. Aku ingin semuanya tahu bahwa kita bersama, Ren. “

“Untuk apa keeksistensian itu? Toh kelak kita hanya akan menemukan dunia kita diisi hanya oleh kau dan aku. Sabarlah menunggu, Dhin.”

Ponselku berdering, aku membaca satu pesan singkat yang masuk. Air mataku menetes, aku tahu saat ini akhirnya akan datang juga.

“Ren.. Maafkan aku. ”, aku menatapmu.

“Kenapa?”

“Aku harus pergi. Kamu tahu, aku selalu punya satu permintaan untukmu, sekarang bahkan entah sampai kapan…”

“Yang tak bisa aku turuti sekarang. Ya, aku tahu itu Dhin.”

“Aku harus pergi sekarang.”

“Kenapa terburu-buru? Kita baru bertemu sebentar kan?”, kamu menggenggam tanganku dengan erat. Seolah takut aku tinggalkan.

“Aku maunya Kamu, tapi orangtuaku tidak pernah mau menunggumu. Siang ini aku menikah, sms barusan dikirim oleh Ibuku, Penata rias sudah datang ke rumahku. Maafkan aku Ren.”

Aku menatap matamu dengan tegar. Sudah lelah aku menangisi ketidakjelasan hubungan kita. Aku tidak boleh menangis kali ini, atau aku akan tampak terlalu rapuh di matamu.

“Apa?”, kamu memandangiku, seolah mencari tahu apakah aku sedang berbohong.

“Jangan. Jangan mengatakan apapun saat ini.”, aku meninggalkanmu yang masih duduk di tepi kasur. Aku tak membalikkan badan melihatmu, takut kalau aku melakukan itu, aku akan kembali lagi padamu.

Aku beranjak membuka pintu apartemenmu, sebelum aku menoleh ke foto keluarga yang terpasang di dekat pintu. Gambar besar yang berisi kamu, istri dan anak perempuanmu. Bukan foto mesramu dengan diriku.



@alvina13, #15HariNgeblogFF hari keempat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar