Rabu, 18 Januari 2012

Sepucuk surat (bukan) dariku

Aku memandangimu yang sedang mengajar di depan kelas. Tawa riang sesekali mewarnai suasana. Aku bahagia melihatmu mewujudkan keinginanmu, Gy. Dulu kau pernah berkata bahwa mengajar anak-anak di pedalaman negeri ini merupakan suatu tantangan yang harus bisa kau taklukan. Dan di sinilah kamu berada sekarang, mengabdikan diri kepada kemanusiaan. Kepada sanak saudara kita yang tertinggal ilmu pengetahuan.


Meski awalnya aku sulit melepasmu, tapi aku tahu sifatmu yang keras kepala. Hari itu, saat kamu berangkat, aku baru berdamai dengan perasaanku. Pasti akan sulit untuk berada jauh darimu, terlebih dengan sarana informasi yang terbatas. Tidak ada yang punya telepon rumah, apalagi miskin sinyal telepon genggam. Hubungan kita Cuma berbatas surat-menyurat. Kalau ada sahabat pena, maka kamu adalah pacar pena-ku. Meski harus puas akan tukang pos yang mungkin hanya sebulan dua kali datang ke daerahmu, tetapi aku terus mengirimkan cerita keadaanku setiap hari.


Aku ingin kamu tahu bahwa aku tetap mencintaimu, tetap setia padamu.


Bel sekolah berbunyi, setelah salam penutup lalu kelasmu bubar. Semangat dan senyum masih terus terlihat jelas di wajahmu.


Hei, lihat Gy, itu Pak Pos yang mengantarkan surat untukmu. Adakah suratku hari ini sampai padamu? Aku mengintip beberapa surat yang diberikan Pak Pos kepadamu, ah itu dia, sebuah surat dengan amplop warna biru tua. Warna kegemaran kita berdua.


”Terima kasih Pak.”, katamu lalu berlari ke kebun belakang sekolah untuk membaca surat cinta dariku. Tunggu dulu, betulkah itu surat cinta dariku?


Aku melirik lagi nama pengirimnya. Alamatnya memang dari rumahku, tapi pengirimnya bukan aku. Sepucuk surat itu (bukan) dariku, Nggi. Kenapa kamu nggak terkejut? Atau kamu belum sadar bahwa bukan namaku yang ada di sana?



Dear Anggy, maafkan Oom, Nak. Sebenarnya Oom ingin datang langsung ke tempatmu untuk mengabari hal ini. Tapi kondisi Tante yang masih trauma membuat Oom harus selalu menemaninya. Gy, Reno seminggu yang lalu kalah dalam pertarungannya melawan penyakitnya. Ia sudah meninggal, Gy. Maafkan Oom karena tidak segera mengabari Anggy.

Surabaya, 3 Januari 2011

Salam,

Ayahnya Reno.



Kamu menangis, Gy. Tangis dalam yang membuatku merasa bersalah telah meninggalkanmu. Aku ingin membelaimu, menghapus air mata itu dan berkata semua akan baik-baik saja. Namun aku tak bisa. Aku hanya bayangan yang ikut merasakan lukamu. Maaf Gy, maafkan aku.


Angin bertiup, menghapusku dari dunia ini. Dari sisimu, dari bayang hidupmu. Maaf, Gy. Maafkan aku...


@alvina13 #15HariNgeblogFF hari ketujuh

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar