Selasa, 24 Januari 2012

Kalau odol lagi jatuh cinta

“Menurutmu, odol bisa jatuh cinta nggak? “, iseng aku bertanya padamu.

“Odol?”

“Iya, Odol.”

“Kalau odol lagi jatuh cinta, mungkin dia akan terlibat cinta segitiga.”, jawabmu.

“Kenapa?”

“Karena aku rasa, odol bingung harus memilih akan setia sama siapa, sikat gigi sebagai pasangannya atau gigi geligi sebagai takdirnya.”


Saat itu aku tertawa mendengar jawabanmu. Hei, aku hanya iseng bertanya. Kenapa kamu membawa-bawa sampai cinta segitiga segala? Mungkin waktu itu, sebenarnya kamu sudah memberi tanda kepadaku, akan apa yang aku temukan hari ini.


Pagi tadi, aku terbangun karena ponselmu terus menerus berbunyi. Aku tahu semalaman kamu lembur kerjaan, jadi aku berinisiatif mengangkat telepon itu.

“Halo, selamat pagi.”, aku membuka percakapan.

“Selamat pagi, maaf apa ini nomer hape Bapak Tyo?”

“Iya, betul. Ada perlu apa ya, Pak?”

“Saya Komar, Bu. Tetangganya Bu Sinta. Saya mau memberi kabar, Bu Sinta masuk rumah sakit. Tadi jatuh di kamar mandi, kata pembantunya sih pendarahan. Tolong disampaikan ya, Bu. Di rawat di RS. Kasih Ibu, Kamar Anyelir.”

“Sebentar, Pak. Bu Sinta itu siapa ya? Maaf sekali, tapi rumahnya mana? Apa hubungannya sama Suami saya?”

“Lho, gimana sih. Bu Sinta itu ya Istrinya Pak Tyo. Ibu ini siapanya Pak Tyo to, kok bisa sampai nggak tahu?”


Aku tak mampu berkata. Sambungan aku matikan, lalu aku merasakan penyesalan terbesar dalam hidupku atas keputusan mengangkat telepon itu pagi ini.


Aku menunggu kamu bangun sambil menangis. Entah untuk apa air mata ini. Mungkin untuk wanita itu yang kau nikahi diam-diam tanpa sepengetahuanku, Mungkin untuk rahimku yang tak mampu memberikan anak untukmu, atau mungkin aku menangisi takdir.

Kamu bangun, seperti biasa melakukan rutinitasmu. Mencuci muka, menggosok gigi (yang membuatku ingat akan percakapan kita dulu tentang odol yang jatuh cinta), lalu menghampiri meja makan untuk sarapan.

Setelah itu kamu memandangiku, mungkin heran karena aku terlalu banyak diam pagi ini.


“Kamu sakit, Dy?”, tanyamu.

“Nggak, Mas.”

“Kok kayaknya kamu pucat? Kamu habis nangis, ya?”

“…” , aku diam. Bingung bagaimana mengatakannya padamu.

“Hei, besok kan ulang tahun perkawinan kita yang kelima. Kamu mau minta hadiah apa?”


Aku menangis. Rasanya perih ketika kamu ingat hari pernikahan kita, tapi apakah kamu ingat janji setia kita dulu?


“Dy, eh. Kok malah nangis?”, kamu menghampiriku.

“Mas. Kamu nggak perlu jadi odol buatku.”, kataku.

“Kamu ngomong apa sih?”

“Kita berpisah saja, Mas. Aku tahu kamu ngga bahagia hidup bersamaku.”

“Dyah. Kamu itu ngomong apaan?”, kamu menatap wajahku, mungkin mengamati apa aku serius dengan perkataanku.

“Sinta masuk rumah sakit. Dia pendarahan. Kamu temani saja dia. Setelah urusanmu beres, kamu bisa menceraikanku.”, aku menatap matanya dengan tegas. Kuhapus air mata yang tadi berjatuhan di pipiku.


Tidak, aku tidak boleh terpuruk. Jika kamu memang terbelenggu olehku, maka aku yang akan melepaskanmu dari ikatan itu.



@alvina 13. #15Ngeblog FF hari ke tiga belas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar