Sabtu, 19 September 2009

-Selfish3-

Aku ingin menjadi anak kecil lagi, yang tak pernah berfikir tentang sulitnya mencintai. Yang selalu dilimpahi cinta kemanapun ia pergi, yang tak pernah tersakiti oleh satu kata bernama cinta. Yang ia tahu, cinta itu artinya bahagia, bukannya rasa duka.

Yang tak peduli bagaimana rasanya terkhianati cinta, yang tak tersakiti oleh berkali kali rasanya jatuh cinta.

Dulu, waktu Bunda masih ada, aku pernah menyukai seorang teman lelaki. Dasar emang anak kecil, kami selalu membahas cinta di tiap pembicaraan via telepon, kami berencana membangun sebuah pernikahan, bahkan tak peduli perbedaan yang jelas terpampang di hadapan kami. Ya, kami berbeda, sangat berbeda, bahkan dia juga sudah dijodohkan orangtuanya. Tapi dasar anak-anak, aku tak peduli perbedaan itu semua, yang aku tahu, aku dan dia saling mencinta. Sudah cukup.

Kami bahkan belum menginjak bangku SD kala itu, umur yang masih sangat belia, tapi aku sudah mengenal apa itu kata cinta. Ironis? Mungkin, tapi itu yang terjadi dalam hidupku, setidaknya Tuhan sudah memberi warning pada ku kala itu. Ingat, Nak, ada banyak macam Cinta di dunia yang akan kau lalui ini..

Kala itu bahkan aku sering cerita sama Bunda, bahwa aku ingin menikah dengan teman lelaki itu nanti ketika dewasa. Heranku waktu itu, Bunda hanya tersenyum sambil berkata, iyaa..nanti ya, kalo udah gede.

6 tahun berlalu, dan aku sempat berkomunikasi lagi dengannya, tak lama, hanya berbicara seperlunya saja. Masa-masa lalu itu juga tak berani aku ungkit lagi, walau masih sering mampir di ingatanku. Betapa polosnya kami waktu itu..hehehh..

Dan sekarang, aku kembali dihadapkan pada masalah yang biasa terjadi. Masalah cinta, lagi. Yang aku perlukan sebenernya berbenah hati, menata ruang yang masih ditempati someone special disana. Menatanya dan kemudian aku bingung, pintu ruang itu, haruskah ku tutup atau kubuka, sehingga ia bisa kembali kapan saja. Bahkan walau ia telah memiliki someone special lain di hatinya.

Bodoh? Mungkin..Lugu? ya, aku memang tak pernah bisa memahami apa itu cinta, bahkan sampai seumuran sekarang pun, aku masih tak paham sebenernya cinta itu apa. Kalo ia manis, mengapa sekarang aku merasa pahit sekali merasakannya? Kalo cinta itu setia, mengapa ternyata yang terjadi malah sebaliknya? Kalo ia menenangkan, mengapa yang ada sekarang hanya gundah gelisah yang tak kunjung pergi. Yang kurasakan hanya sakit yang tak tahu bagaimana cara terbaik mengobatinya. Yang aku tahu, aku terpuruk mencintainya. Dan ternyata ia perlahan beranjak meninggalkanku.

Seharusnya kalo aku mampu, aku lepaskan saja dia, lupakan dia, dan habis sudah perkara.

Tapi masalahnya, tidak..aku tak mampu melepasnya.

-keegoisan dan kebodohanku-
Solo
-Untuk teman lelakiku dulu, dimana kamu sekarang berada?-
-Dan Untuk seseorang yang kini nyata-nyata menyakitiku, sungguh, aku tak tau harus bagaimana mengahadapimu-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar