Sabtu, 17 Oktober 2009

-Bunda-

Seorang sahabat pernah bercerita, bagaimana rasanya mengenang Ayahnya yang meninggalkannya. Bagaimana rasanya melepas kepergiannya. Saat membaca catatan yang tak hanya sekedar catatan itu membuatku terlempar ke sudut 15 tahun lalu. Saat pertama kalinya aku merasakan kehilangan yang sangat dalam kehidupanku, saat kepergian itu membuahkan perubahan besar dalam jalan cerita hidupku.

Jika sahabatku itu masih ingat kenangan-kenangan manis bersama Ayahnya, masih dapat mengenang banyak perjumpaan dia dengan Ayahnya. Maka tidak demikian dengan diriku. Yang tersisa dari sosok Bunda, adalah berpuluh-puluh kenangan yang tak sedemikian jelas dan banyaknya. Yang tersisa dari sosok Bunda adalah mimpi-mimpi singkat tentang masa hidup bersamanya. Namun pernik kecil itu masih tertata rapi dalam ruang hati kecilku.

Kalau sahabatku masih dapat mengenang kata-kata Ayahnya, maka aku tak dapat lagi mengingat dengan jelas apa yang pernah terucap Bunda, yang kuingat hanya suaranya, hanya senyumannya, hanya makna katanya. Dalam usia sekecil itu, mana aku tahu apa itu mati? Apa itu pergi selamanya, apa itu surga neraka, karena aku tak pernah membayangkan apapun itu dalam benakku.

Yang aku ingat jelas di hari kepergiannya itu adalah, ketika Tante memakaikan baju hitam kepadaku, padahal aku pinginnya baju putih, baju cerah, karena ia bilang mau jalan-jalan ke Monas. Lalu aku mendengar sayup-sayup kata kata Ambulans, sayup-sayup suara tangis, beberapa pandangan mata yang menatapku iba. Lalu aku tersadar, ada sesuatu terjadi pada Bunda. Aku bahkan tak ingat apakah aku menangis saat itu, apakah aku meronta, apakah aku berduka, karena aku tak tahu apa-apa.

Kemudian yang aku lihat saat itu adalah, sesosok tubuh terbalut kafan putih, menghadap kiblat dan aku perlahan mendekatinya. Dan mereka menatapku iba, dan mereka menunjuk-nunjuk padaku, tapi aku tak tahu kenapa. Kemudian Tante kembali mengajakku menghindari rumah duka itu, pergi ke taman bermain di dekatnya, dengan tujuan aku tak merasa terganggu. Terganggu? Pikirku. Aku saja tak tahu apa yang menggangguku, apa yang menimpaku, perubahan besar apa yang terjadi dalam duniaku.

Aku tak hadir di acara penguburannya, Karena saat itu aku di Jakarta, dan Bunda dikubur di kota kecil kelahirannya, yang ternyata menjadi kota dimana aku tumbuh dewasa. Dimana aku menghabiskan waktu dengan menghirup udara yang sama seperti yang ia hirup dulu, tinggal bersama wanita yang melahirkannya dulu, dan aku merasakan tiap detik yang kulewati di kota itu begitu berarti. Karena aku dapat merasakan bayangnya di mana saja di kota kecil itu.

Yang masih tersisa erat di pikiranku dan benakku adalah saat saat mengenang Bunda. Saat ketika ia mengantarkanku ke TK, saat ketika ia membelikan bekal untukku di kantin depan sekoLah. Saat ketika ia menemaniku sampai masuk ke depan kelas, saat ketika keLuar pintu gerbang yang kucari adalah sosoknya dibalik kerumunan orangtua. Saat ketika ia mengajakku belanja ke Golden Trully, makan di Texas, di Dunkin, jalan jalan ke Gunung agung beli komik. Saat ketika aku curhat dan cerita banyak kepadanya, saat ketika aku menyicipi masakannya, saat ketika aku tidur bersamanya.

Saat ketika akhirnya kuketahui aku akan punya seorang adik baru. Saat ketika aku dan Papa harus tidur dibawah tempat tidurmu di rumah sakit saat kau baru melahirkan adik baruku. Saat ketika aku dan Papa tiap malam mengunjungimu di rumah berobatmu, saat ketika aku menghabiskan waktu di sampingmu, saat ketika kau mewasiatkan pesan untukku, agar rajin belajar dan menjaga adik baruku. Saat ini dan itu dan saat saat lainnya, Dan banyak kisah-kisah sederhana lainnya yang tak pernah terasa sederhana pada akhirnya.


-Solo-
Saat mengenang sosok anggun dan tegarmu, Bunda
We Love You..
^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar