Selasa, 12 Juni 2012

Menunggu Lampu Hijau


Aku berdiri tepat di depan menara jam gadang di bawah mentari yang bersinar terik. Keramaian membuatku sedikit penat, namun apalah daya, aku sudah terlanjur janji menunggu kamu di sini. Kulirik jam di tanganku, sudah telat 30 menit. Jika kali ini aku gagal mengatakan semuanya kepadamu, akan ada lebih banyak waktu yang kupakai untuk menunggu lagi.

”Maaf telat.”, suaramu mengagetkanku.
Aku tersenyum, senyum paling manis yang bisa aku berikan.
”Nggak apa. Tumben telat?”
”Iya, Mama minta diantar dulu ke supermarket”.
Lalu aku mengajakmu membeli es krim dari bapak yang sedang berjualan.

”Apa sih yang mau kamu sampaikan?”, katamu sambil menyesap es krim cokelat favoritmu.
”Makan es krim dulu yuk. Sambil cari tempat duduk.”, aku menggandeng tanganmu di sisi kiri dan tangan kananku memegangi cone es krim yang dipenuhi es krim stroberi, favoritku yang cocok menemani saat mentari bersinar dengan galak seperti siang ini.


Sebuah kursi taman terlihat kosong meski sebenarnya hilir mudik manusia seakan tak pernah usai. Aku mengajakmu duduk di kursi putih itu, nyaman karena terletak di bawah pohon rindang. Bahkan indahnya jam gadang masih teramati meski harus menerawang mengalahkan silau Sang Surya.

”Kamu ada perlu apa sih, La? Tumben ngajak ketemuan di sini.”, kamu mengamatiku.
Aku hanya tersenyum mengamati jarum jam di tangan sambil sesekali menoleh ke arah jam gadang.
”Kamu tahu, siapa yang menciptakan waktu?”, tanyaku.
”Maksudmu?”
”iya.. Waktu. Kira-kira siapa ya yang menciptakan dia?”
”Kamu ngomong apaan sih?”
”Ih beneran. Tau ngga, menurutku waktu itu dibuat oleh para pencinta. Sebab merekalah yang sebenarnya selalu menunggu waktu.”, aku memandangi wajahmu.
”Ini gara-gara aku telat ya? Maaf deh maaf”, raut wajahmu berubah lucu.

Aku tertawa. Tawa yang lepas hingga sebagian besar orang melirik ke arah kita.

”Nggak. Dewa, kita udah pacaran berapa tahun ya?”
”em.. sejak SMA kan. Ingat waktu pertama kali aku mengenalmu ketika upacara bendera di kelas 1? Ah berarti sudah.. 5 tahun ?”, kamu tersenyum sambil membelai kepalaku.
Beginilah, aku sendiri heran pada diriku. Kmau baik, kamu perhatian, kamu setia. Harusnya kamu bisa jadi sempurna. Tapi...

”Dewa, aku rasa hubungan kita sampai di sini saja ya.”, aku membuang pandanganku menerawang jauh ke langit biru.
Kamu terdiam. Entah sedang membayangkan sesuatu atau memang mencoba menyusun kalimat yang tepat. Tapi toh ketika memutuskan hubungan, tak akan pernah ada kalimat yang tepat.

”Kamu serius?”, akhirnya hanya itu yang kamu ucapkan.
”Yakin.”, aku memutar-mutar jam di pergelangan tanganku. Kebiasaan kalau aku mulai gugup.

”Kenapa?”, ah sudah kutebak pasti pertanyaan itu muncul.
”Sepertinya makin lama kita makin jelas berbeda.”, aku memaksakan sebuah senyuman. Kaku.
”Kamu tak ingin memikirkannya dulu?”
”Aku sudah memikirkannya lama, De.”
”Lalu nanti kalau aku merindukanmu?”
”Kita temenan saja ya. Kamu masih boleh kok bertemu denganku, tapi sungguh aku ngerasa kita udah nggak cocok lagi.”
Kamu menghela nafas. Berat. Es krim yang masih tersisa kau buang ke tempat sampah di dekat kursi taman kita.
”Tapi aku masih sayang kamu, La.”
”Maaf De, aku nggak bisa lagi menyayangi kamu lebih dari sekedar teman.”
”Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa.”, kita berjabat tangan dengan enggan.
Kamu membalikkan badan dan melangkah hilang dalam keramaian.

Tak ada air mata, tak ada pertengkaran, tak ada caci maki. Mengapa terlalu mudah, pikirku.

Biarlah, mungkin memang sudah saatnya kami berpisah.
Aku mengambil ponselku, menekan sebuah nomor kontak dan menunggu nada sambung.

”Halo.”
”Hai, ini aku, Lala.”
”Oh, ada apa, La?”
“Kamu tahu, Bang. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa mengatakan ini.”
”Apa?”
”Aku telah menyalakan lampu hijau buat kamu.”
”Jadi?”
”Ya, sekarang kita tidak perlu lagi pacaran diam-diam.”, aku tersenyum menatap jam gadang.

Benarlah, waktu hanya milik Sang pencinta. Ia ada karena rasa rindu dan ada untuk menunggu.


#15HariNgeblogFF2. Hari pertama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar