Minggu, 20 Mei 2012

Kenapa harus pakai sepatu?



Bagi kami, mahasiswa jurusan Ilmu Kimia, praktikum ibaratnya adalah makanan sehari-hari. Berkecimpung dengan alat-alat laboratorium dan larutan-larutan korosif bukan lagi hal yang asing. Tentu saja seperti biasa, ada safety yang harus dijaga saat praktikum dilaksanakan. Seperti mengenakan jas laboratorium dan bersepatu dengan model tertutup. Artinya larangan keras bagi para praktikan untuk mengenakan sandal atau sepatu sandal. 

Tapi seorang temanku, Fulan, memiliki pandangan lain tentang sepatu model tertutup. Dia lebih suka menggunakan sepatu sandal, katanya lebih bebas dan lebih tampak keren. Model-model sandal gunung begitu biasanya yang ia kenakan.

Suatu sore, kami akan memulai praktikum kimia organik. Praktikum yang satu ini biasanya menggunakan larutan-larutan yang korosif, artinya merusak. Nah, saat itu Si Fulan tidak mengenakan sepatu model tertutup seperti seharusnya. Katanya sih, malas pulang kembali ke kost hanya untuk berganti sepatu. Tapi kami mendesaknya untuk mengganti dengan model sepatu tertutup, tentu saja kami sadar bila tidak ingin celaka ya hal terbaik yang bisa dilakukan adalah mencegahnya.

Setelah adegan bujuk rayu dan mulut berbusa karena menegur Fulan, akhirnya dia mau menukar sepatunya dengan seorang kakak tingkat yang kebetulan tidak ada praktikum. Tak apalah, pikir kami, meski dia nggak pulang ke kost, toh dia sudah memenuhi syarat untuk praktikum.

Praktikum berjalan dengan baik, sampai tanpa sengaja Si Fulan menjatuhkan gelas beaker berisi larutan asam sulfat!!
Seisi laboratorium panik, bagaimana tidak, asam sulfat adalah larutan yang korosif. Kami sudah khawatir kakinya Si Fulan kenapa-kenapa. Praktikan sekelompoknya berhenti bekerja, segera ke luar laboratorium untuk melihat keadaan kaki Si Fulan.

Untungnya, kaki Si Fulan tak cedera sedikit pun, beaker yang pecah itu hanya menciprati sedikit permukaan sepatu pinjamannya. Dan untungnya lagi, Sepatu yang dipinjam Fulan terbuat dari kulit dan cukup tebal, sehingga meski meninggalkan bekas tapi tak sampai berlubang.

Semenjak itu, pengalaman Fulan selalu menjadi pelajaran bagi kami agar lebih hati-hati dan selalu melengkapi keamanan saat eksperimen, khususnya. Lebih baik mencegah daripada mengobati, kan? Yang terpenting, kenakan sepatu sesuai fungsinya. Terutama kalau di laboratorium, kaki ’sumuk’ sedikit tak apalah, yang penting kan aman..


Tulisan ini disertakan dalam Lomba Menulis Kisah Inspirasi "Aku dan Sepatuku" oleh Noura Books

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar