Minggu, 17 Juni 2012

Sehangat Serabi Solo


Pagi itu Pasar Klewer sudah ramai dengan orang yang lalu lalang. Tentu saja, sebagai salah satu pusat perbelanjaan yang cukup murah di Solo, tempat ini selalu ramai saat buka. Aku mulai ketar ketir, sepertinya mengajakmu bertemu di tempat ini merupakan kesalahan besar, bagaimana pula aku akan mengenalimu padahal kita tak pernah bertemu?

“Cari nopo, Cah Ayu? Monggo batik-batike apik apik lho.”, seorang Ibu-ibu menawarkan dagangannya kepadaku. Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala. Tidak, bukan itu yang aku cari di sini.
Ponselku berdering, sebuah pesan masuk, ternyata itu dari kamu.
Aku harus menunggu di mana, Ayu? Tempat ini ramai benar.

Aku menoleh mencari tempat yang unik, tapi sepanjang Pasar Klewer ini hanya kulihat kios-kios pedagang. Bagaimanalah pula kau bisa aku ajak bertemu di depan Kios Pak Jaya, misalnya, bisa-bisa kau dan aku tersesat berjam-jam mencari Kios tersebut sampai pasar ini tutup. Dengan cepat-cepat aku melangkahkan kaki keluar dari dalam Pasar, aku harus menemukan satu tempat pertemuan yang unik, agar kau tak tersesat menemukanku. Nah, itu dia, aku tersenyum melihat gapura Pasar yang berdiri megah.

Kamu tunggu di dekat gapura pasar Klewer ya, aku segera ke sana. Oh iya, bajuku hari ini berwarna biru, kalau-kalau kau nanti melihatku.

Terkirim. 



Satu pesan masuk.

Oke. Aku lagi nyari tempat parkir, nanti aku ke sana.

Kulangkahkan kakiku menuju Gapura yang megah itu, catnya yang berwarna kekuningan menjadikannya seakan benderang tertimpa sinar matahari. Riuh suara orang-orang dan kendaraan yang lewat membuat tempat ini semakin ramai. Kulirik jam di tangan, sudah pukul 11 siang, pantaslah pasar makin sesak. Setelah sampai, aku berdiri bersandar, kegerahan. Angin sepertinya tak mau susah-susah memberikan sedikit saja kesejukannya untukku kali ini. Payah benar, bisa-bisa baru pertama bertemu kau sudah kapok melihatku yang lecek dan kusam begini.

Lima tahun yang lalu aku mengenalmu dari blog. Tulisan-tulisanmu selalu menjadikan hariku ceria. Bukan, bukan blog motivasi tetapi hanya sebuah blog yang bercerita bagaimana kisahmu berlalu. Cara penyampaianmu yang asyik, pengalamanmu yang konyol dan ternyata kamu ramah sekali membalas komentar-komentar yang singgah di blogmu, termasuk membalas komentarku yang sering berkunjung.

Sejak itu kita menjadi sahabat di dunia maya, tak pernah bertatap muka sebab jarak memisahkan kita. Kau tinggal di Pontianak dan aku tinggal di Solo, Laut Jawa menjadi jurang pelebar kita untuk bertemu. Tapi toh dengan sarana komunikasi yang canggih sekarang ini aku mampu mengenalmu dengan cukup baik, setidaknya untuk dua orang yang tak pernah bertemu. Kamu menjadi teman sekaligus pendukungku saat aku masuk kuliah bahkan sampai saat selesai ujian skripsi, kamu menyemangatiku dari jarak ratusan kilometer jauhnya. Ah, mungkin benar aku menyukaimu, seperti kata pepatah jawa,

”Witing trenso jalaran soko kulino ~ Cinta ada karena terbiasa.”

Kali ini kamu berkata akan berkunjung ke Solo dan memintaku untuk bertemu, tentu saja aku mau. Sekalian saja nanti aku akan menyatakan perasaanku padamu. Mumpung bisa bertemu kan? Aku tersenyum-senyum sendiri. Serabi Solo yang kubawakan masih terasa hangat, anggap saja salam perkenalan agar kamu tidak terkejut saat aku bilang aku suka kamu. Toh kamu sudah lama ingin menyicipi enaknya makanan khas kotaku ini.

”Ayu?”, sebuah suara mengagetkanku.
”Eh. Benar. Kamu.. em.. Kamu Agung?”, tanyaku.
Kamu tersenyum sambil mengangguk. ”Iya, aku Agung.” Apa Kabar? Akhirnya kita bertemu di sini juga ya.”
Aku tertawa, bahagia.

Tapi tidak setelah kamu memperkenalkan dia.

”Kenalkan, ini Putri, tunanganku. Dia yang repot-repot mau berbelanja bahan kain di Solo, katanya mau digunakan sebagai bahan pakaian pengantin.”, kamu tersenyum.
Gadis itu mengulurkan tangannya padaku, aku tersenyum tertahan. Kaku.

”Eh, ini ada Serabi Solo, masih hangat semoga kamu suka.”, aku menyerahkannya kepada Putri yang mengajak bersalaman.

Aku meringis perih. Kali ini perasanku tidak sehangat Serabi Solo.


 #15HariNgeblogFF2  hari keenam Sehangat Serabi Solo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar