Sabtu, 16 Juni 2012

Sepanjang Jalan Braga


Aku melangkahkan kaki dengan enggan di sepanjang trotoar jalan Braga. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kuning keemasan menerangi malam yang makin pekat. Ah, ini malam kesekianku sendirian setelah putus dengan Domi. Malam minggu yang ramai, tapi rasanya hatiku menyempit sepi.

Kakiku berhenti di depan sebuah cafe tempat kami biasa bertemu. Haruskah aku melangkahkan kaki masuk dan mengenang puluhan kali kencan di tempat ini?

”Silakan masuk, Mbak.”, seorang pelayan membukakan pintu cafe untukku.
”Eh.. Ah.. Eh.. saya.. Ah, terima kasih.”, aku memutuskan masuk dan membiarkan memori terkuak lagi.

”Saya pesan blackcoffee.”, aku memilih kursi di dekat jendela, menikmati orang yang lalu lalang di Jalan Braga.

Baru saja kuseruput kopi hitam itu, aku melihat sekilas bayanganmu yang sedang duduk di trotoar seberang jalan. Aku memalingkan wajahku, tapi akhirnya penasaran lagi dan menengokmu. Ya, itu benar kamu. Tapi bukankah hari ini harusnya kamu berangkat ke Surabaya? Seperti katamu saat perpisahan kita dulu, daripada jarak menahan kita berdua, alangkah baiknya jika kita berpisah saja akhirnya.

Aku memanggil pelayan dan membayar bon kopi yang bahkan baru kuteguk sekali. Dengan segera aku melangkah keluar cafe dan berjalan menuju arahmu.

”Domi..”, panggilku.
Kamu menoleh ke arahku dan tersenyum. Tanganmu menepuk permukaan trotoar seakan menyuruhku duduk di sebelahmu. Haruskah aku duduk, tapi kita kan sudah berpisah.. Ah, masa bodoh dengan kata putus itu, disadari maupun tidak aku sebenarnya masih mencintaimu.



”Kamu nggak jadi ke Surabaya?”, aku membuka pembicaraan.
”Nggak. Aku kangen kamu, Gi”, kamu menoleh ke arahku.
Aku merasa wajahku merona merah, malu. Bukankah seharusnya kalimat itu tidak diucapkan oleh pasangan yang baru saja putus?
Semilir angin malam yang dingin membuatku merinding, cardigan biruku tak sanggup menghalangi angin-angin nakal tersebut menelusup masuk.
”Kamu dingin? Pakai jaketku ya?”, kamu melepas jaket hitammu dan memberikannya kepadaku.  
”Makasih.”, aku bingung harus berkata apa lagi.

Harum tubuhmu menguar dari jaket favoritmu itu, membuatu semakin salah tingkah karena merasa semakin dekat denganmu.

”Maafkan aku ya Gi.”, katamu tiba-tiba sambil menyentuh pergelangan tanganku.
”Untuk apa, Dom?”
”Untuk semuanya, untuk kesalahanku mengakhiri hubungan kita. Kamu tahu, seminggu terakhir ini aku makin sadar aku salah telah memutuskanmu.”
Aku terdiam memandangi pemuda-pemudi yang bergandengan tangan sepanjang jalan Braga. Aku dulu sama seperti mereka, denganmu melintasi jalanan ini berkali-kali menikmati malam minggu berdua.  Mungkin kita bisa seperti mereka lagi?
”Aku nggak pernah menganggap kamu salah, kok.”
”Begitukah?”
”Iya, kamu tahu nggak. Aku juga sama kaya kamu, akhir-akhir ini rasanya kesepian banget.”
”Jadi kamu mau memaafkanku?”
Aku mengangguk mengiyakan.

Kita sejenak menikmati malam itu dalam diam. Aku bersandar di bahumu sambil mempererat jaketmu, rasanya Braga malam ini dingin sekali, padahal angin juga tak terlalu kencang.

“Aku dingin banget, kita masuk ke cafe aja yuk.”, ajakku.
Kamu tersenyum, ”Nggak usah, aku mau pulang. Kamu bawa kendaraan sendiri?”, katamu.
”Aku.. ”, rasanya tidak secepat ini aku ingin berpisah. Tapi toh malam sudah semakin larut.
”Kita masih bisa bertemu esok hari kan?”, tanyaku.
”Semoga. ”
Aku baru hendak mengembalikan jaketmu, ”Bawa saja jaketku, Gi.”
”Nanti mengembalikannya?”
”Kita pasti bertemu lagi kok. Hati-hati menyetir ya, aku sayang kamu.”
Aku melangkahkan kaki dengan enggan ke parkiran mobilku, sesekali menoleh ke belakang tapi tampaknya kamu sudah berjalan dengan cepat sehingga tak kutemukan lagi siluetmu dalam temaram malam.

Kubuka pintu mobil, jaketmu kulepas dan kuletakkan di kursi depan penumpang. Ponselku berbunyi, itu Deni, sahabatmu.
”Hai, Gi. Kamu di mana?”
”Aku di Braga. Kenapa Den?”
”Aku ke sana, tunggu aku ya.”
”Eh, kenapa Den?”
”Tadi siang mobil Domi kecelakaan dalam perjalanan ke Surabaya.”
”Kamu bercanda ah.”
”Beneran, baru saja aku dapat telepon dari Nyokapnya. Domi meninggal, Gi.”
”Kamu bohong. Ih, aku baru ngobrol sama Domi kok di Braga.”
”Aku ngga bercanda, Gi. Beneran.”, suara Deni serius. Aku mulai meragukan diriku sendiri.

Lalu kutolehkan wajahku ke kursi tempat jaketmu kuletakkan, tak ada apa-apa di sana. Jaketmu hilang.

Aku kaku, antara percaya dan tidak. Mungkinkah?
Air mataku menderas, jadi itu sebabnya mengapa tanganmu, pelukanmu semuanya terasa dingin?

”Gi.. Gi..Giaa tunggu di sana, aku segera datang.”, Suara Deni lamat-lamat kudengar...



#15HariNgeblogFF2 Hari ke 5 : Sepanjang Jalan Braga


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar