Kamis, 14 Juni 2012

Jingga di Ujung Senja


Aku membuka lipatan surat yang kamu berikan siang tadi di bandara. Perpisahan bagi sebagian orang adalah sebuah awal, tapi bagiku perpisahan kali ini adalah sebuah akhir.

Setelah lipatan terakhir dibuka, aku tak berani langsung membaca isinya. Kubuang tatapanku ke arah Sungai Musi. Sebuah tongkang melintas membuat Airnya bergejolak, tak perlu waktu lama untuk menjadikan permukaannya tenang kembali.

Dear Lala.
Maafkan karena aku harus meninggalkan cerita kita di kotamu. Kamu tahu sepertinya kesalahan kita sejak awal bermula dari senja. Mungkin sebenarnya senja adalah tempat persinggahan sementara, di mana waktu tak pernah membiarkan semuanya menyatu dengan sempurna. Jika kamu adalah senja, maka aku mataharinya. Sebuah pertemuan menyatukan hati kita dan menjadikan kita saling jatuh cinta. Tapi toh penguasanya tetap Waktu, ia tak pernah membiarkan mentari berlama-lama bercumbu dengan senja.



Aku mengamati langit Palembang yang menjingga. Semburatnya terbias sempurna di cakrawala, menampakkan keelokkan karya Sang Maha Kuasa. Begitu tidak adilnya jika matahari hanya bisa memiliki senja sebentar saja, pikirku. Sama seperti aku yang hanya bisa memiliki dirimu berbilang waktu.

Aku tak tahu haruskah aku meminta maaf atau malah mengatakan bahwa aku masih mencintaimu. Tak ada yang salah dengan cinta, kata para pujangga. Mungkin itu benar, karena yang salah adalah waktu. Atau perlukah kita mencari kambing hitam dari masalah cinta kita berdua? Tapi bagaimanapun juga terima kasih karena telah mengijinkanku merasakan cinta senja dalam hidupku. Tahukah kamu, rasa-rasanya sampai kapanpun aku akan tetap mengingatmu saat senja tiba.

Pengagum Senja
-Agung-

Aku melipat kertas itu dan menggenggamnya erat-erat. Mengapa harus ada pertemuan jika ternyata harus ada perpisahan? Alangkah tidak adilnya keadaan itu, bukan?

Ingatanku kembali ke 5 bulan yang lalu. Di tempat ini, pertama kali kamu menyatakan rasa cintamu padaku.
”Aku suka kamu, La.”, saat itu langit juga sedang jingga.
Senyumku langsung mengembang. ”Aku juga suka kamu, Gung.”

Semenjak itu kita selalu sering terlihat berdua. Meski aku tahu akan ada saatnya kita berpisah tapi ternyata perpisahan itu hadir lebih cepat dari yang aku kira.

”Aku harus pulang ke Surabaya.”
”Kapan?”
”3 hari lagi. Aku sudah memesan tiket pesawat.”

Aku terdiam. 6 bulan Kerja Lapanganmu ternyata hanya sekejap saja rasanya bagiku.

”Tak bisa lebih lama lagi di Kota ini?”
”Maaf, La. Tapi aku harus menyelesaikan kuliahku. Nanti setelah aku lulus, aku akan kembali ke kota ini.”
”Janji?”
”Aku janji.”

Entah siapa yang menjadi saksi janjimu saat itu. Mentari sudah tenggelam, tapi bintang juga belum tampak. Mungkin Sungai Musi dan Jembatan Ampera yang menyaksikan kita dalam bisu.

Dering telepon menyadarkanku dari lamunan.
”La.”, itu suaramu.
”Hey, Gung. Sudah sampai Surabaya? Cepat sekali?”
”Kamu kapan pulang?”, tanyamu.
Aku bingung.”Pulang ke mana?”
”Ke rumahmu donk.”, kamu tertawa dari jauh. Ah betapa aku merindukan tawamu itu.
”Memangnya ada apa?”, jawabku.
”Aku menunggumu.”
”Di mana?”
”Di rumahmu.”
”Kamu nggak jadi balik ke Surabaya?”
“Aku membelikan satu tiket lagi untukmu. Kamu harus kuperkenalkan ke ayah ibuku.”

Aku tersenyum. Ah, ya.. siapa bilang jingga dan mentari tak pernah bisa lama bersama?




#15HariNgeblogFF2 Hari ke 3 : Jingga di Ujung Senja


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar