Selasa, 17 November 2009

-Ibu part1-

Banyak orang bertanya sama saya, gimana sih rasanya jadi Ibu di usia muda? Pertanyaan ini sebenernya Cuma bisa diwakili satu jawaban, AMAZING. Kalau gak percaya, Anda boleh coba sendiri deh.. jadi ibu adalah hal yang mungkin tak sempat saya pikirkan waktu dulu SMA, jamannya masih kebelet nikah dini, dan terobsesi sama buku Nikah Dini Kereen!!-nya Bang Haekal. Waktu itu Cuma dibahas nikah dininya doank, ibu dininya gak ada alias gak kebahas. Sedang untuk yang NDK 2 berhubung saya gak punya dan waktu itu minjem doank dari temen, alhasil saya agak lupa jalan ceritanya, apakah menyinggung perihal ibu dini atau enggak.. Hehehh..

Jadi seorang Ibu, buat saya sebenernya mengandung beberapa makna. Jadi Ibu itu gak harus ngelahirin, Bu Dosen contohnya, kan banyak dosen muda yang belum jadi Ibu-Ibu. Buat dipanggil Ibu juga gak harus menikah, contohnya Ibu Guru, nahh, Guru saya dulu masih alone juga udah dipanggil Ibu. Jaadi Ibu itu gak harus tua atau keliatan dewasa, saya saja yang masih imut dan masih berkelakuan remaja udah dipanggil ibu ama temen-temen sekelas..^^”

Sekadar berbagi pengalaman aja, saya menjadi seorang Ibu, mungkin banyak yang setengah gak percaya. Bolehlah ditanya teman-teman satu kelas, bagaimana sikap saya yang udah ibu-ibu ini. Yaaa..jabatan udah jadi Emak, tapi kalo sikap mah, teteup berjiwa muda..^^V. menjadi Ibu, adalah hal yang menjadi pengalaman ruhani ataupun jasmani. Menjadi Ibu adalah hal yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. Kadang saya menemukan pelajaran hidup didalamnya, untuk sabar, mengalah, bersedih atas duka orang lain (dalam hal ini jadi emaknya ryza ataupun emaknya anak anak di kelas), bergembira atas kebahagiaan orang lain, belajar berbagi, menyayangi, mencintai, dan belajar berbagai peran dalam kehidupan. Terkadang menjadi Ibu, menjadi teman, menjadi sahabat, menjadi benteng, menjadi tiang, menjadi atap, menjadi jendela, (kok lama lama menjadi rumah….^^).

Mungkin karena usia saya yang masih dibawah 25, alias masih labil biasanya. Lebih mengutamakan perasaan, ego atau apapunlah mereka menyebutnya. Saya lebih sering menitikkan air mata, baik atas sedih, bahagia, bangga, atau kelilipan di mata..(oke..yang ini gak nyambung).. kadang bisa saja sejam yang lalu saya tertawa, tapi sejam kemudian saya sedih, lalu meneteskan air mata. Terkadang memang bisa dianggap wajar, tapi terkadang sebal juga, ada air mata nyelonong gak permisi netes gitu aja. Ya, inilah salah satu kekurangan saya menjadi Ibu di usia muda, masih cengeng kalo kata Budhe ama bulik. ^^”. Atau terkadang beranggapan saya terlalu memanjakan Oryz, yaa.. kadang doank sih, tapi saya juga agak gak ngeh yang disebut memanjakan itu yang gimana. Asal tidak berlebihan, saya pikir, terkadang kita perlu menyenangkan anak, mungkin mereka menyebutnya memanjakan, saya menyebutnya menyenangkan. Gak tau beda, gak tau sama deh..

Menjadi seorang Ibu, adalah hal luar biasa yang terjadi dalam sejarah hidup saya yang pada awalnya sudah tidak biasa. (buat yang tau aja ini mah..). menjadi Ibu adalah berkah Tuhan kepada saya dan pelajaran yang diberikan-Nya kepada saya dalam wujud yang nyata. Terkadang saya memang masih egois, masih selfish gitu bahasa gaulnya. Tapi biar bagaimanapun juga, saya masih belajar menjadi Ibu yang baik, yang tegar, yang bermanfaat dunia akhirat bagi orang-orang di dekat saya. (Biar jadi Ibu-Ibu, bahasa tetep sok diplomatis..). tapi jangan salahkan saya kalau jadi Ibu tapi tetep gaul, tetep hobi jalan jalan ke Gramed, ke Mall sama si kecil, kan belajar mengenalkan dunia ( ceritanyaaa..) sama si Kecil. Jangan sewot juga kalo saya suka poto-poto, (bawaan dari lahir kata temen..), kalo saya suka makan suka ini suka itu, suka ngomong (agak) keras.. hehehh, ya maap atuh. Kalo ada yang gak suka, bilang saja langsung sama saya, biar begini-begini, saya juga masih belajar jadi seorang Ibu yang baik dan tidak selalu benar.

Akhir kata, saya masih mengagumi sosok Ibu yang ada di luar sana. Yang dipanggil Ibu karena memiliki buah hati ataupun karena kepribadian atau perannya di masyarakat. Menyandang gelar Ibu adalah sebuah awal dari perubahan diri, mungkin bukan jasmani, tapi ruhani, atau lebih spesifiknya di dalam hati. Ada yang beda disana, dan kalau kamu gak percaya.. buktikan saja.. jadilah seorang Ibu, dan kau akan tahu apa yang beda di hatimu..


-Solo-
Hari-hari menjelang hari Ibu
Mengenang para Ibu yang telah mewarnai duniaku
Bunda, Mama, Ibu, Si Mbah, Budhe, Bulik, Ibu Guru, Ibu Dosen, dan yang lain yang tak tersebutkan satu satu. Terima kasih atas pengajaran dan segala yang telah diberikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar