Senin, 07 Desember 2009

-101-

Terkoyak dalam keremangan fajar
Masih kutatap gemintang yang menghiasi langitku
Terdiam, tapi sebenarnya bersuara
Dalam nada berupa gemerlapan cahaya

Tak ada yang bisa kuhilangkan dari pekat itu
Yang bisa aku lakukan hanya duduk
Diam dan mengamati mereka menertawakanku
Menertawakan kebodohanku
Menertawakan perasaanku

Inginnya aku menangis
Berteriak dan berkata
” ini bukan salahku”
Tapi mereka tak pernah memberikan jeda
Untukku menghela nafas sedikit saja

Lelahku memuncak dan menjadi air mata
Tapi tak pernah jera aku menengadahkan kepala
Dan melihat mereka bercengkerama
Padahal aku disini berharap dan terluka

” Bodoh ”
Sering sekali gemintang itu memanggilku begitu
Aku tak marah, sebab mungkin memang aku bodoh
Mengharap bintang yang sudah punya rumah di langit sana
Menginginkan bintang yang hanya muncul setelah senja
Mendamba bintang yang ternyata untuk memandangnya pun
Aku harus mengeluarkan banyak usaha

Tapi aku masih mengharapkan bintang itu bersedia
Duduk sejenak di sisiku
Menghiburku dan bertanya perasaanku

” Mustahil”
Mereka bilang begitu
Tapi aku tahu dan percaya
Suatu saat tak ada kemustahilan lagi di hidupku


-Solo-
Mendung gak ujan-ujan..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar