Sabtu, 16 April 2011

Perempuan (saya) dan puisi

Hari ini ada acara di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo. Diskusi tentang tema perempuan dalam puisi. Kemaren taunya juga karena diinformasikan sama mbak Iput dari Pawon Sastra. Tadi di suruh ngomong dikit sih, tapi karena saya juga baru pertama kali ikut kegiatan mereka, saya masih jadi pendengar dan pengamat dulu saja deh. Belum, saya belum siap untuk diskusi, secara ya, biasa diskusi tentang jurnal ilmiah di kampus, ato diskusi film di rumah sama ayah, tapi saya belum pernah ikut diskusi sastra. Apalagi yang temanya perempuan.

Gimana tadi kesannya? Saya terkejut sebenarnya, maklum saya tidak terbiasa menyimak secara langsung diskusi diskusi yang nyastra abis. Bahasanya bahasa sastra, yang di bahas pun juga tentang kesusastraan dan filosofi. Saya yang basicnya dari science enjoy, meski ada kata kata yang masih awam, ada juga yang bahasanya njelimet nggak to the point. Tatpi secara keseluruhan saya suka acara seperti ini, membuka cakrawala baru saya tentang para manusia sastra secara langsung, melihat dan mendengar mereka berdiskusi. Mungkin saya akan datang lagi kalo ada acara bginian.. ^^

Bagaimana puisi dalam keseharian saya sebagai perempuan?

Saya suka membaca dari kecil, meski demikian sya baru memulai menulis puisi ketika SMP. Yah walaupun satu satunya karya saya yang berhasil diterbitkan adalah ketika kelas 3 SMA, di majalah sekolah waktu itu. Dan Cuma sekali itu, karena saya juga nggak pernah menang lomba dan puisi saya juga belum pernah dimuat di media cetak lainnya.

Tapi saya masih tetap suka menulis puisi, saya memang tidak atau mungkin belum bisa disejajarkan dengan mbak-mbak dan mas-mas para sastrawan dan sastrawati yang telah menerbitkan buku puisi perempuan mereka atau antologi puisi mereka. Saya juga nggak berbakat nulis cerpen, karena repotnya saya nggak bisa menentukan klimaks cerpen itu sendiri. Saya masih golongan kasta rendah kalo di kelas kelaskan.

Blog saya juga tidak sering dibaca orang, kebanyakan hanya karena mencari artikel tertentu bukannya membaca hasil tulisan saya. Lalu kecewakah saya? Sejujurnya, tidak. Saya menulis memang untuk saya sendiri, puisi adalah identitas yang mampu menggandengkan saya dari alam imajinasi ke alam duniawi. Alam mimpi dan alam nyata. Cukupkah sampai disitu? Sejujurnya, siapa sih yang nggak mau karya sastranya dinikmati orang lain, dikritisi, dipuji, dicaci, dimaki.. Agar bisa menjadi karya yang lebih baik. Agar nantinya puisi menjadi lahan pembelajaran saya khususnya sebagai pencinta sastra.

Saya suka keduanya, membaca dan menulis. Sebagian besar tulisan di blog saya isinya puisi, sebagian lagi cerita saya, pengalaman saya yang mungkin memang nggak bisa dijadikan puisi, tapi lebih menceritakannya kepada pembaca secara langsung.

Lalu hubungannya saya sebagai perempuan?

Puisi adalah cara saya curhat. Tetntang hidup, tentang alam, tentang ritme keduniaan, tentang cinta, tentang kesedihan, tentang apa saja yang bisa saya ubah menjadi susunan kata. Beberapa orang menyukai puisi saya, tapi saya tahu bahwa banyak orang juga yang tidak menyukai puisi sya. Lalu kenapa? Manusia baik apapun jenis kelaminnya, saya rasa mereka berhak menyuarakan emosi mereka dalam bait puisi. Tanpa perlu dibanding-bandingkan, atau dikotak-kotakkan.

Saya sebagai individu lebih setuju bahwa di dunia puisi khususnya, tidak ada pemisahan gender. Ia tak serupa tapi sama. Masing-masing individu menyuarakannya dengan kekuatannya sendiri-sendiri, dengan ciri khas masing-masing penulis. Biar perempuan, kalau ia belum mampu, katakan saja belum, Biar ia lelaki pun juga begitu. Seperti yang dibahas tadi di diskusi, jika puisi itu adalah produk, biar konsumennya yang menilai siapa yang memiliki karya yang baik dan mana yang kurang.

Toh masing-masing orang diperbolehkan memiliki pandangan yang berbeda dalam menanggapi sebuah puisi.

-Solo-

160411

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar