Selasa, 05 April 2011

Aku dan MIR

Hari ini ikut seminar ala wali murid di sekolahnya Oryz. Sekalian nerima hasil MIR (Multiple Intelligences Research) punya Oryz. Awalnya biasa, sedikit pengenalan ke orang tua tentang Manfaat MIR. Bahwa untuk melihat potensi belajar anak, kita harus tahu anak ini tertariknya lewat apa. Apa kecerdasan visualnya yg lebih tinggi, atau kinetis, atau musik, dsb lah. Jadi kita bisa mengajari anak dengan caranya masing-masing.

Sebenernya rada terpesona juga waktu nerima materi, soalnya yang bawain acara juga konyol, interaktif juga sih dengan pesertanya. Tapi begitu aku tahu bahwa kecerdasan itu berkembang, alias bersifat dinamis, aku jadi mikir. Apalagi setelah dinyatakan oleh Bapak pembicara, kalo MIR itu datanya selalu bisa berubah minimal 6 bulan sekali. Berarti harusnya anak saya di lakukan MIR tiap 6 bulan sekali donk. Dan itu juga belum tentu konsisten. Contohnya, Oryz di MIR akhir bulan desember, pembagian hasil ini bulan april. Dalam hasil ditulis kecerdasan musik Oryz di peringkat 7, 2 dari terakhir, padahal sekarang ini Oryz lagi seneng banget nyanyi. Karena waktu pemberian materi di seminar itu juga dikasih tau beberapa ciri tentang masing masing keunikan kecerdasan multiple itu.

Kecerdasan musik itu diantara ciri cirinya adalah seneng nyanyi, seneng ikutin orang nyanyi, seneng dengerin musik, bersenandung, sampe ngerubah sendiri teks lagunya. Oryz juga lagi dalam fase ini, meski aku tadi juga nggak tanya ke bapak penceramah, karena aku tahu pasti jawabannya. Multiple intelligences itu berubah ubah terus, bu. Pasti gitu jawabnya. Lalu gimana donk, sedang hasil testnya aja butuh waktu 3 bulan buat di print out. Keburu berubah lagi donk hasil MIRnya.

Terus gimana? Hei, saya tidak menyalahkan test MIR, karena seperti yang kita tahu, kecerdasan manusia itu fluktuatif. Berkembang. Meski saya rasa kalo yang satu berkembang, bukan tidak mungkin yang lain menyusut. Terus gimana mensiasati mengoptimalkan golden age si anak?

Kalau saya boleh kasih saran. Sebagai orang tua, kita harus sering mengamati kebiasaan si anak. MIR itu kan alat bantu orang tua dan guru untuk mengenal dan memasuki dunia anak agar bisa menyisipkan dan mengoptimalkan kecerdasan mereka. Berarti kita harusnya tahu apa saja yang menjadi ciri-ciri dari 8 MI itu. Misalnya, kalo Kecerdasan linguistik ciri cirinya cerewet, seneng ngomong apaa aja (gw bangeeet), kalo kinetis cirinya ngga bisa diem alias geraak mulu, jumpalitan di atas kasur, lari lari, main bola. Terus kalo kecerdasan alam cirinya suka dengan hewan, suka kasih nama hewan, tumbuhan. Kecerdasan intrapersonal, suka melamun, pendiam, suka nangis juga sih tadi si Bapak bilangnya. Kecerdasan interpersonal, suka berhubungan dnegan orang lain, suka bergaul, senengnya maiin sama temennya.

Nah, kalo kita sudah tau ciri ciri dari kecerdasan anak, maka sebaiknya ketika kita tahu si anak itu paling senengnya ngapain, maka lewat pintu itulah kecerdasannya ditingkatkan. Jadi kita ngga perlu nunggu hasil MIR yang sampai 3 bulan baru bisa keluar, karena biar bagaimanapun juga. Orang tua seharusnya paling paham kebiasaan anak. Atau kalo orang tua ternyata juga ngga tau, si mbaknya yang sering menghabiskan waktu dengan si anak, mungkin lebih tau dari pada orang tua. No offense, demi kebaikan si anak, yang mana ahli waris kita, kesampingin dulu itu ego. Jadilah orang tua yang mau menerima masukan dari orang orang terdekat si anak. Jadi kita bisa menempatkan pintu masuk ”kecerdasan” itu dengan tepat. Yaa, kalo salah, itungannya nggak salah salah banget lah.

Maaf kalo merasa ada yang ngga setuju dengan tulisan ini, ini hanya pendapat saya sebagai ibu muda biasa. Bukan ahli yang punya background psikologi apalagi bergaul dnegan banyak anak anak kecil golden age. Nggak, saya lebih suka mengamati orang daripada bergaul dengan orang. Susah ya. ^^”

Sekian, semoga pendapat saya ini bisa bermanfaat. J

-Solo-

Sambil ngetweet, nyimak film, ngeblog dan diskusi tulisan. What a colorful life.

:D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar