Rabu, 14 April 2010

Totto-chan

Ibu guru menganggap Totto-Chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Itulah sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Karena para guru sudah tak tahan lagi, akhirnya Totto-chan dikeluarkan dari sekolah.

Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Totto-chan girang sekali, di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan.

Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka. Ada yang memulai hari dengan belajar fisika, ada yang mendahulukan menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pokoknya sesuka mereka. Karena sekolah itu begitu unik, Totto-chan pun merasa kerasan.

Walaupun belum menyadarinya, Totto-chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, music, bahasa dan lain-lain di sana. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri.


Mr. Kobayashi adalah kepala sekolah dalam sekolah itu, Ia yang banyak mengajarkan dan menanamkan hal-hal positif pada diri anak-anak sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi khasnya masing-masing. Sedangkan Totto-chan adalah salah satu dari sekitar 50 anak yang bersekolah di sekolah itu dan merasakan suasana sekolah yang lain dari biasanya.

Buku ini merupakan pengalaman pribadi sang pengarang, Tetsuko Kuroyanagi sekitar tahun 1981 dan telah diterbitkan juga dalam bahasa inggris. Dalam setahun, buku ini mampu terjual sebanyak 4.500.000 buah dan dijadikan buku wajib pendidikan dan beberapa cerita di dalamnya digunakan sebagai bahan ajar oleh Departemen Pendidikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar