Minggu, 18 April 2010

Sepenggal Kisah

Kashva menunggu kalimat lanjutan Astu.

“Perjalanan cinta seperti jalur-jalur benda langit yang senantiasa kita amati di langit malam selama kita di Kuil Sistan. Masing-masing takdir benda langit itu mengantar mereka kepada pengembaraan – pengembaraan jauh. Menembus ruang dan waktu, tetapi pasti sampai pada ujung jarak yang sanggup mereka tempuh.”

Ada kekuatan yang terbangun pada kata-kata Astu. Kekuatan yang tersusun oleh hal-hal asing bagi Kashva.

Kata-kata Astu tak terpatahkan, “ Ujung jarak itu membuat benda langit itu, mau tidak mau, harus berhenti. Tidak bisa berjalan lagi. Jika ia memaksakan diri, akan ada ketidakseimbangan, kehancuran, malapetaka. Benturan antar bintang, meteor dengan planet.”

“Jadi, kau anggap pernikahanmu sebgai titik untuk berhenti mencintai seseorang yang engkau dambakan, Astu?”

Mengangkat dagu, Astu menyorongkan kedua lengannya, meminta Xerxes dari dekapan Kashva. “Ada yang lebih tinggi dibanding cinta yang engkau pahami, Kashva.”

Kashva akhirnya melepas dekapannya pada Xerxes yang sesaat lalu terbangun dari nyenyak tidurnya. Dua matanya membulat dan tidak mengerti, berupaya mencerna adegan dihadapannya. “Paman….”

Kashva menciumi pipi dan kening Xerxes. “Ibumu mengajakmu pulang, Nak. Besok Paman menemuimu lagi.” Menyorongkan tubuh Xerxes ke Astu.” Ada hal yang lebih tinggi dibandingkan cinta, menurutmu?”

….

“Tanggung jawab.” Astu bersiap meninggalkan Kashva. “ Jika engkau telah menjadi bagian dari sebuah keluarga, engkau akan paham maksudku. Tanggung jawab adalah perwujudan dari cinta yang seutuhnya.”

“Kau terpaksa mengabaikan cinta untuk tanggung jawabmu sebagai seorang isteri?”

Astu menggeleng.”Tidak akan mudah bagimu untuk memahami ini.” Membalikkan badan.”Aku masih mampu mencintaimu. Namun untuk memaksakan diri supaya apa yang kau sebut ‘cinta’ itu mewujud dalam sebuah penyatuan, maka kaki-kaki keseimbangan akan runtuh. Seperti halnya benda langit yang terbakar saat mendekati bumi, atau bintang-bintang pijar yang bertumbukkan.”

……

“Duniamu adalah buku, kitab-kitab, perbincangan filsafat, agama-agama, perbintangan, bukan menjadi buruh perkebunan, mengurusi suami yang tidak mencintaimu, mengelola pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya.”

Kalimat Kashva seperti hujan garam pada luka di hatinya. Astu menggegaskan langkah sementara memanas dua matanya. Seburuk apapun hal yang dikatakan Kashva, ada kebenaran di sebaliknya. Astu mengakui itu.

Pernikahan Astu dengan Parkhida pernah terasa seperti rentang waktu terburuk sepanjang sejarah. Pemaksaan yang dimulai sejak awal. Sesengit apapun pertikaiannya melawan Kashva, Astu tidak mampu menyebut nama lain jika dia ditanya siapa lelaki yang ingin ia temani ketika kulitnya telah keriput, memutih rambutnya, mengabur penglihatannya, selain Kashva. Sebuah fragmen tentang sepotong sore tenang sementara langit barat mengemas kemerahan. Berpegangan tangan, sementara kedua mata saling tatap dan berbicara tanpa aksara.” Bukankah tidak ada yang berubah selama puluhan tahun ini, Sayang?”

Menikah dengan Parkhida merobohkan bangunan angan-angan itu, menghancurkannya hingga lebur tanpa berkeping-keping. Bunuh diri dan masuk neraka pun rasanya masih lebih baik. Pernikahan itu begitu seketika.


*Muhammad : Lelaki penggenggam hujan ; 252-254

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar