Kamis, 04 Februari 2010

Budaya Baca

Dewasa ini pembinaan minat baca merupakan hal yang sangat penting tetapi seolah dilupakan orang, kita begitu percaya kepada sekolah tempat anak-anak kita belajar, kita acuh apakah kepandaian membaca anak kita benar-benar baik atau baru biasa-biasa saja. Pembinaan selanjutnya orangtualah yang harus mengajari anaknya agar mereka menjadi pembaca yang baik .

Agar mereka menjadi “kutu buku” haruslah dibimbing, dan kita juga harus memilihkan bacaan yang baik , jika salah memilih buku bacaan hasilnya akan bertolak belakang, bukannya mencintai buku melainkan membeci buku bahkan tidak tahu arti penting dari sebuah buku. Buku bacaan membuat kita berfikir dan dari sanalah kita dapat meningkatkan kecerdasan , orang menjadi cerdas kalau banyak membaca.


Tidak dipungkiri untuk meningkatkan budaya baca tidaklah mudah , banyak faktor-faktor penghambatnya, mengapa minat baca di Indonesia rendah tetunya banyak hal yang mempengaruhinya :


Pertama, pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak / siswa/mahasiswa harus membaca (lebih banyak lebih baik), mencari informasi / pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan.

Kedua, banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku.

Ketiga, banyak tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karoke, night club, mall, supermarket dan lain-lain.

Keempat, budaya baca memang belum diwariskan secara maksimal oleh nenek moyang. Kita terbiasa mendengar dan belajar dari berbagai dongeng, kisah, adat istiadat secara verbal dikemukakan orang tua, tokoh masyarakat penguasa zaman dulu, anak-anak didongengi secara lisan, tidak ada pembelajaran (sosialisasi) secara tertulis, tidak ada pembelajaran (sosialisasi) secara tertulis, jadi tidak terbiasa mencapai pengetahuan melalui bacaan.

Kelima, sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka. Di hampir semua sekolah pada semua jenis dan jenjang pendidikan perpustakaannya masih belum memenuhi standar sarana dan prasarana pendidikan.

Perpustakaan sekolah belum sepenuhnya berfungsi, jumlah buku-buku perpustakaan jauh dari mencukupi kebutuhan tuntutan membaca sebagai basis pendidikan serta peralatan dan tenaga yang tidak sesuai dengan kebutuhan, Tantowi Yahya, Duta Baca Nasional 2006 mengatakan, “masyarakat tidak bisa disalahkan karena rendahnya minat baca. Kondisi perpustakaan tidak mendukung dan jumlah koleksi buku juga terbatas,” (Indriani Dyah, Tempointeraktif, Jum’at, 28 Juli 2006). Jika kita tengok perpustakaan yang konon, merupakan lumbungnya ilmu, keadaannya tak jauh beda.

Kondisi perpustakaan sekolah bahkan perguruan tinggi di Indonesia secara umum amatlah memprihatinkan. Selain kondisi ruangan yang sempit, sumpek dan banyak debu menempel dimana-mana, juga tempatnya yang kurang strategis. Belum lagi isi perpustakaan yang tidak melayani ketersediaan bacaaan yang bervariasi, membuat siapapun malas melangkahkan kakinya ke perpustakaan. Pengalaman penulis yang lebih senang pergi membaca ke toko buku dari pada ke perpustakaan menjadi bukti akan hal ini

Keenam, harga buku yang relatif masih mahal yang tidak sebanding dengan daya beli masyarakat. Oleh karena dengan mahalnya harga buku yang tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat, maka sedikit sekali masyarakat yang memiliki koleksi buku di rumahnya.

Ketujuh, belum adanya lembaga atau institusi yang secara formal khusus menangani minat baca. Sehingga program menumbuhkan minat baca hanya dilakukan secara sporadis, oleh LSM, organisasi pencinta buku, organisasi penerbit, dsbnya, yang tidak terkoordinasi walaupun potensi sumber daya manusia ada tetapi belum merupakan kekuatan dapat secara sinergis menjadi instrumen yang efektif untuk menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia.

Bacaan yang kurang memikat dan minimnya sarana perpustakaan sekolah menjadi faktor utama penyebab minat baca siswa rendah. Sementara itu, sekolah tidak selalu mampu menumbuhkan kebiasaan membaca bagi para siswanya. Dengan kondisi kualitas buku pelajaran yang memprihatinkan, padatnya kurikulum, dan metode pembelajaran yang menekankan hafalan materi justru ‘membunuh’ minat membaca. Menurut Prof. Dr. Riris K. Toha Sarumpaet, Guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini melihat, sekolah tidak memadai sebagai tempat untuk menumbuhkan minat baca anak didik. Hal ini, menurut dia, tidak terlepas dari kurikulum pendidikan. Kurikulum yang terlalu padat membuat siswa tidak punya waktu untuk membaca. Riris mengemukakan bahwa siswa terlalu sibuk dengan pelajaran yang harus diikuti tiap hari. Belum lagi harus mengerjakan PR.(www.republika.co.id., diakses 24 Desember 2007).

Oleh karena itu, solusi terbaik dalam membuka jalan pikiran seorang siswa agar mereka mempunyai wawasan yang luas, adalah dengan cara membaca. Agar siswa dapat membaca buku secara ajeg, maka kepada mereka perlu disediakan bahan bacaan yang cukup koleksinya. Oleh karena itu, perpustakaan merupakan wacana baca yang mampu menyediakan beragam buku baik fiksi nonfiksi, referensi, atau nonbuku seperti majalah, koran, kaset serta alat peraga, wajib dimiliki setiap sekolah.

Berdasarkan beberapa kajian literatur dan artikel yang diakses dari internet, ada beberapa indikator yang dapat diidentifikan sebagai faktor yang mempengaruhi minat baca masyarakat Indonesia, sebagai berikut ini.

Pertama, dari berbagai sumber informasi yang dapat dipercaya, menunjukkan ada indikasi bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Hal ini terlihat dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006 yang menunjukkan bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih banyak tertarik dan memilih untuk menonton TV (85,9%) dan atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id, diakses tanggal 24 Desember 2007).

Kedua, Internasional Education Achiecment (IEA) melaporkan bahwa kemampuan membaca siswa SD di Indonesia berada pada urutan 38 dari 39 negara peserta studi. Kesimpulan dari riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia menempatkan urutan ke-38 dari 39 negara. Angka-angka itu menggambarkan betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak Sekolah Dasar.

Ketiga, indikator lainnya tentang masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, ditunjukkan dengan konsumsi satu surat kabar untuk 45 orang (1:45). Apalagi di Jawa Barat, jumlah masyarakat yang buta huruf mencapai 1,8 juta orang dan Provinsi Banten 1,4 juta dari 8 juta warganya. Ratio antara konsumsi satu surat dengan jumlah pembaca, di Indonesia sudah tertinggal jauh dengan negara-negara lain, bahkan negara tetangga seperti Srilangka sudah 1:38 dan Filipina 1:30. Idealnya satu surat kabar dibaca oleh 10 orang atau dengan ratio 1:10.

Keempat, ditinjau dari sisi yang lain, jam bermain anak-anak Indonesia masih tinggi, yakni lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton acara TV. Di AS, jumlah jam bermain anak-anak antara 3-4 jam per hari. Bahkan di Korea dan Vietnam, jam bermain anak-anak sehari hanya satu jam. Selebihnya anak-anak menghabiskan waktu untuk belajar atau membaca buku, sehingga tidak heran budaya baca sudah demikian tinggi. (Pikiran Rakyat, 8-3-2004).

http://www.penulislepas.com/v2/?p=626
http://nadzkuraka.blogspot.com/2010/01/menumbuhkan-minat-baca-pada-mahasiswa.html
http://omelgent.ngeblogs.com/2010/01/09/menumbuhkan-minat-baca/
http://www.snapdrive.net/files/577716/ARTICLE/Minat%20Baca%20dan%20Kualitas%20Bangsa.pdf

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar