Sabtu, 31 Agustus 2013

19 April 2013



Dulu saya pernah cerita proses kelahirannya si Oryz. Kali ini mau cerita proses kelahirannya si Zie, mumpung masih belum lupa. :)

HPL Zie sebenarnya tanggal 17 April 2013, tapi tanggal segitu saya masih sempet antar jemput Kakak ke Sekolah. Ada kontraksi tapi nggak rutin dan nggak sakit. Baru tanggal 18 April, siannya, saya mulai merasa kontraksi yang agak kuat, tapi masih belum beritme, alhasil masih santai saja donk ya.

Jam 23.00, Kamis malamnya saya masuk RS. Kontraksinya masih 20 menit sekali tapi sudah mulai muncul flek, mencegah hal-hal yang nggak diinginkan, saya boyongan menginap di ruang bersalin. Bukaan satu, kata suster. Nyerinya udah kayak gini masih bukaan satu? *dalam hati senewen juga

Jumat pagi sampai siang, bukaannya masih belum nambah, kontraksinya juga masih jarang. Yang bikin parno, denyut nadinya janin mulai diukur tiap jam, kata Mbak perawat, sedikit melemah. Jeng..jeng..jeng..
Pagi itu sebenarnya sudah ditawarkan untuk SC, Operasi, tapi saya dan suami berharap ada pilihan yang lebih baik yaitu normal, pun jika ternyata harus sama kayak persalinan sebelumnya, yaitu diinduksi.

Induksi masuk pada pukul 13.00 hari Jumat 19 April, setelah suntikan pertama, rasa nyerinya mulai hebat tetapi masih lambat sekali ritmenya. 20 menit sekali, lalu maju menjadi 10 menit sekali.

Pukul 16.00, pemeriksaan dilakukan, suster berkata bahwa denyut bayi setiap terjadi kontraksi melemah, di bawah batas normal. Jadi mau tidak mau, induksi harus dilepaskan (karena dimasukkan lewat infus), lalu harus dilakukan SC.

Di tengah keparnoan tersebut, setelah menandatangani berkas ini itu, seorang teman Blogger menelepon saya. Antara seneng ada yang diajak curhat tapi parno juga, saya lalu menanyakan sedikit tentang SC dengan dia. Selama seharian itu memang saya nggak aktif di Jejaring sosial manapun, sebenarnya karena nggak ada sinyal ._.
Telepon singkat itu cukup meredakan kegelisahan saya,  i will survive. Yes, I will.

Jam 17.15 saya masuk ruang operasi, nunggu dokternya lengkap dan peralatan bedah disiapkan, saya masuk ruang operasi pukul 18.00, setelah adzan magrib berkumandang. Lalu dibius lokal di punggung. Semenit dua menit, dokter anestesi menyuruh saya mengangkat kaki, eh kaki saya masih bisa diangkat. Lalu dia khawatir jangan-jangan saya kurang dosis XD
Syukurlah 5 menit kemudian (ada jam dinding persis di hadapan saya, jd masih inget banget waktunya XD) saya masih sadar tapi bius sudah mulai bekerja,Operasi dimulai.

Nggak kerasa kan ya dibeleh bagaimana gitu waktu SC, yang saya tau ketika anak saya dikeluarkan, lalu respon pertama Dr.SPOG saya adalah ”bayi ibu ternyata terlilit tali pusar”,.. pantesan denyut jantungnya melemah tiap kontraksi..

Terus denger tangisannya, kenceeeng bangeet, terus IMD, lalu bayi dibawa keluar untuk diadzani ayahnya. Setelah itu saya nggak sadarkan diri XD

Bangun-bangun di ruang pemulihan operasi, selimut panas menyelimuti saya, denyut jantung belum stabil, tekanan darah saya drop menurun, kata perawat. Yang saya ingat, saya menggigil kencang, rasanya dingin banget.

Setelah itu saya tak tahu waktu, saya di antara sadar dan tidak sadar, sampai suhu tubuh saya kembali normal dan tekanan darah mulai naik. Malam jam 21.00, saya dibawa masuk ke ruang pemulihan :)

Di ruang pemulihan baruuuu kerasaa sakitnya pasca SC, Buat saya, melahirkan normal atau SC, seorang ibu sama-sama bertaruh nyawa. Maka jangan ada yang meremehkan satu sama lain, karena sakitnya juga tetep ada, dan bahagianya juga tak terkira :D

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar