Jumat, 03 Februari 2012

Secangkir Kopi, dan bayangmu

“Kenapa sih kamu suka black coffee?”

“Emangnya nggak boleh?”

“Kamu kan cewek, biasanya yang minum black coffee kan cowok.”

“Dih, asal nge-judge. Suka-suka aku donk.”

***

Aku masih ingat pertemuan kita di café itu. Secangkir black coffee menjadi alasanmu menyapaku yang sedang duduk sendiri di meja dekat kasir. Kita baru berkenalan, tapi rasanya seperti sudah pernah lama bertemu.

“Eh, aku belum tahu siapa namamu.”

“Aku Delia. Pangggil aja Lia.”, aku mengulurkan tangan mengajaknya bersalaman.

“Aku Cakra ”, kamu menjabat tanganku erat.

Semenjak itu kita sering bertemu di café, terlebih setelah jam pulang kantor. Kadang kita pergi ke bioskop, ke toko buku, tapi setelah itu pasti mampir lagi ke café ini. Memesan dua cangkir black coffee sambil tertawa menikmati sisa hari. Memandangi kemacetan lalu lintas ibukota yang tampak dari balik jendela, atau gemerlapan lampu Jakarta yang memesona saat malam tiba.

***

Hari ini, sudah 6 bulan lebih kita dekat, rasanya tak bisa dipungkiri lagi bahwa aku mulai mencintaimu. Segala sinyal sudah aku tampakkan agar kamu segera menyatakan bahwa kamu juga mencintaiku. Sudah aku tanyakan berkali-kali apakah kamu punya pacar, dan betapa senangnya aku waktu tahu kamu bilang kamu belum punya! Sesekali aku curi pandang ke arahmu lalu kamu melempar senyum manismu padaku. Oh ya ampun, kalau kamu juga suka aku, kenapa nggak bilang saja? Bahkan pelayan di café ini mengira bahwa kita sebenarnya sudah resmi pacaran, ya.. padahal bukan. Ups, belum maksudku. Rencananya malam ini aku yang akan mengungkapkan perasaanku sama kamu, kita sudah sama-sama dewasa jadi aku rasa kalau kamu nggak mau “nembak” aku duluan, maka aku yang akan melakukannya.

Aku sedang menyesap black coffee kegemaranku ketika kamu duduk di kursi depanku. Wajahmu ceria dan senyummu benar-benar lebar. Nampaknya hari ini kamu sedang bahagia, baguslah, pikirku, aku akan dapat menyatakan perasaanku dengan mudah kalau begitu.

“Ca, aku mau ngomong sesuatu.”

“Eh, aku juga mau nyampein sesuatu, Li.”

“Kamu duluan?”

“Nggak, ladies first.”, kamu tertawa.

“Oke. Begini, kita kan udah deket selama lebih dari enam bulan ini.”

“Iya, terus?”

“Aku mau bilang kalau.. aku..”, aku bingung memilih kata-kata yang tepat.

“Aku sayang kamu, Ca. Gimana kalau kita jajaki hubungan kita lebih lanjut? Kamu mau nggak jadi pacarku?”, aku memandang matanya sambil berusaha menutupi betapa gugupnya aku.

Kamu terdiam, lama. Aku mulai punya perasaan nggak enak.

“Lia, aku… tadinya aku mau memberikan ini.”, ia menyerahkan sebuah amplop berwarna merah marun. Seketika dadaku terasa sesak, air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.

“Maafkan aku, Lia. Aku nggak bermaksud membuatmu jatuh cinta padaku lalu aku meninggalkanmu begitu saja. Bagiku kamu hanya seorang sahabatku, tidak lebih.”

Aku mengusap airmata yang jatuh, lalu menatap wajahmu sambil memberikan senyum termanis yang bisa aku berikan saat itu.

“Nggak apa, Ca. Siapa wanita yang beruntung itu? Kamu harus mengenalkannya padaku.”

“Namanya Andrea. Pasti, kamu akan aku kenalkan sama dia, Li. Maaf, aku pergi dulu.”

Aku menatap punggungmu yang menghilang dari balik pintu café saat seorang pelayan membawakan secangkir black coffee yang tadi sempat kamu pesan. Sekarang aku termenung di meja ini, bersama secangkir kopi dan bayangmu yang menjauh pergi dari hidupku.

Jumlah kata : 500. (Yeay, 2 FF udah jadi XD)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar