Rabu, 15 Februari 2012

Rumahku Itu Kamu

“Kamu kapan pulang, Ta?”, katamu di telepon.
“Rencananya seminggu lagi.”, jawabku.
“Kok masih lama, sih?”
“Iya, ini tugas dari big Boss nambah melulu. Kenapa, kamu kangen aku ya?”
Renyah suaramu tertawa. Sudah  dua minggu aku pergi ke luar kota, proyek besar ini menuntut lebih banyak pekerjaan dari yang aku perkirakan. Tapi sebenarnya, besok aku akan pulang ke rumah. Bukan, bukan seminggu lagi, tapi besok. Aku hanya ingin memberikanmu kejutan yang membahagiakan.

“Jadi pulang besok, Ta?”, Ellie, sahabatku menepuk keras pundakku.
“Ya jadi donk.. “, aku tersenyum sumringah.
“Mau diantar sampai bandara nggak?”
“Aku naik taksi aja. Eh, temenin aku beli oleh-oleh dulu yuk, El.”
Aku mengeluarkan daftar belanjaan yang siap diborong hari ini untuk oleh-oleh saat pulang besok.

Pesawat yang menerbangkanku ke Jakarta terpaksa di delay 2 jam karena cuaca benar-benar buruk. Awan hitam masih menggantung malu-malu di langit ketika aku meninggalkan Bandara Soetta,  aku pulang. Tentu saja kemana lagi kalau tidak ke dirimu. Rumahku itu kamu, pikirku sambil tersenyum sendiri di dalam taksi.
“Sudah sampai, Bu. Benar ini kan rumahnya?”, suara supir mengejutkanku.
“Oh, iya. Terima kasih, Pak.”, aku memberikan ongkos setelah Bapak supir itu membantu mengeluarkan barang bawaanku ke teras rumah.

Malam hampir larut, jarum jam menunjuk ke angka 11 ketika aku memutar kunci pintu rumah. Ketika aku masuk, ada sepasang stiletto hitam tercecer di lorong ruang tamu, seperti dilepaskan dengan terburu-buru.
Perasaanku mulai nggak enak. Tidak, aku tidak boleh berpikiran buruk. Ini mungkin sepatu.. sepatu.. ah, aku tidak bisa menemukan ide sepatu siapa itu. Jangan-jangan kamu menduakanku? Aku hampir tidak berani masuk rumah, takut kalau aku tersakiti. Meski ragu, aku menyalakan lampu di ruang keluarga, tapi sepi, hanya sebuah tivi yang menyala tapi tidak bersuara.

Aku melangkah menuju kamar, pikirku saat itu hanyalah harus segera bertemu denganmu. Pintu kamar terbuka separuh, aku memberanikan diri melangkah masuk ke dalamnya sebelum terdengar teriakan
“Kejutaaaaan..”
“Selamat dataaang, Ritaaa..”
“Surpriseeee..”

Dan banyak teman-teman kita bermunculan mengagetkanku. Aku tersenyum salah tingkah sambil mencari sosokmu.
“Cari aku ya?”, kamu memelukku. Sambil berbisik mengucapkan selamat hari jadi pernikahan kita yang pertama.
Ah, ternyata kamu masih ingat. Aku menitikkan air mata, antara terharu dan sebal karena tadi masih terbayang-bayang sepasang stiletto di ruang tamu.
“Aku tadi lihat stiletto, terus.. aku.. aku..”, aku menangis di bahumu sambil mempererat pelukanku.
“Shh.. nggak apa, itu pasti kerjaan teman-temanmu yang usil.”, kamu menenangkan sambil membelai rambutku.
“Kamu tahu, rumahku itu kamu. Rasanya kalau begini, aku nggak sanggup lagi jauh dari kamu.”, aku terisak-isak sambil tertawa mendengar sorakan teman-temanku.
“Aku selalu di sini, siap menjadi tempat yang nyaman dan perlindunganmu. Aku nggak akan menyakitimu apalagi menduakanmu.”, senyummu melelehkan hatiku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar