Sabtu, 30 Januari 2010

Menulis menular

Akhir-akhir ini saya sedang senang sekali tiap buka fb, terutama bagian “catatan teman”. Kenapa? Soalnya udah mulai mewabah virus menulis dikalangan teman-teman saya. Uhui… rasanya kok gembira banget ketika mulai pada rajin nulis atau semangat buat nulis. Ya, walaupun bukan “note berat”, atau sekadar status status ringan, tapi setidaknya sudah mulai mau menulis. Atau sekadar memberi komentar pada catetan temen lainnya, setidaknya ia sudah membaca.. Kan membaca ama menulis itu sodaraan, sapa tau dengan sering mbaca, terus jadi ketularan virus nulisnya juga..

Mary Leonhardt dalam bukunya : 99 cara menjadikan anak Anda bergairah menulis mengungkap beberapa alasan mengapa gemar menulis itu penting.

Dengan pengalaman mengajar lebih dari 30 tahun, Mary memperhatikan bahwa anak-anak yang suka menulis dan sering menulis untuk iseng lebih memahami hal-hal yang dibacanya. Anak-anak yang gemar membaca akan memperoleh rasa kebahasaan tertulis yang kemudian mengalir ke dalam tulisan mereka. Anak-anak yang menulis cerita dan puisi serta memoar akan membaca dengan ketelitian dan wawasan yang jauh lebih besar.

Ahmad Tohari berujar, jadilah pembaca yang rakus sebelum menjadi penulis. Selain dari buku-buku, bahan tulisan dapat diperoleh dari pengalaman orang lain dan dari pengamatan keadaan yang ada di sekitar dan lingkungannya. Sesungguhnya, datangnya gagasan bisa muncul da mana dan dari mana saja karena gagasan itu bertebaran di tiap sudut kehidupan manusia.
Menulis dipakai sebagai sarana belajar untuk mengenal diri sendiri. Menulis menjadi sarana ’output’ untuk mengeluarkan ragam ekspresi yang dialami dan dirasakan penulis. Gagasan yang dituang dalam bentuk tulisan bisa bermacam-macam seperti puisi, cerita pendek, novel, catatan harian, artikel dan bentuk naskah lain. Biarkan tangan menulis bebas mengikuti alam pikiran yang terkadang liar tak terkendali karena penulis punya hak mutlak atas hasil keluaran karyanya. Penilaian akhir diserahkan pada pembaca.
http://vitapriyambada.multiply.com/reviews/item/41



Kadang, kalo udah ketagihan menulis, menulis bisa jadi candu juga bagi saya terutama. Candu membaca, mengamati, melihat, mendengarkan, dan akhirnya menuangkannya dalam bentuk tulisan. Apapun bentuknya. Bahkan terkadang sebaris dua baris, lalu tidak jadi diteruskan karena idenya menggenang gitu aja. Yang pentingkan udah mulai menulis..^^. Lain lagi kalo ide lancar kayak tetes hujan, kadang sampai mbludak (bertumpahan) kemana-mana.. Untuk antisipasinya ya, kalo tiap ada ide, tulis saja lah. Apapun tulisannya..

Jadii.. senang bisa baca tulisan kamu, kawan.. Tulis lagi ya.. terus jangan lupa, saya di tag.. hehehhh..

-Solo-
Baca, Lihat, Dengar, Rasakan, Tulis

Jumat, 29 Januari 2010

STIRER DAN GEL

Semenjak kemarin, sebenarnya saya sudah punya firasat gak enak tentang hasil sintesis saya dan partner. Kenapa? Soalnya dari tenggat waktu yang diperhitungkan, seharusnya hari ini saya sudah bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya yaitu penetralan dan pengeringan. Tappiiii.. Usut punya usut, hasil sintesa saya sama sekali belum menampakkan perubahan yang signifikan sejak di stirer hari selasa kemarin. Masih berbentuk larutan, padahal seharusnya, kalo benar menurut prediksi dan pengalaman para tetua, 3 hari sudah cukup untuk mengubah larutan itu menjadi bentuk gel.

Huu.. anyel.. Tau kenapa? Okelah.. mungkin waktu mencampurkan larutan, masih ada yang kurang tepat metodenya, tapi setidaknya pengaruh mati lampu juga memberikan kontribusi terhadap kebelumjadian hasil sintesis kami. Oohh. Iya, mati lampu. Saya juga tidak tahu harus mengeluh kepada siapa, karena saya juga tidak tahu yang mana yang harus dikeluhkan.

Entah karena mati lampu mendadak yang mungkin memang tidak direncanakan atau diperkirakan oleh pihak berwajib, atau karena genset yang tidak dinyalakan hanya karena hari ini adalah hari jumat sore (dimana pada umumnya udah kagak ada kegiatan lagi di kampus apalagi kuliah juga udah libur), atau karena laboratorium yang masih belum mampu mempunyai genset sendiri.

Alhasil, akhirnya saya menemukan hal yang tidak mengenakkan dari ngelab TA. Dulu kalau praktikum, biasanya mati lampu mah pada seneng.. artinya pulang lebih awal, dan praktikum ditiadakan atau diundur. Tapi begitu udah masuk Lab atas nama TA, waah.. mati lampu menjadi derita tersendiri, saudara-saudara. Apalagi kalo tengah melakukan sesuatu yang sangat membutuhkan arus listrik, dan ternyata berpengaruh sekali terhadap percobaan kita saat itu.

Akhirnya, larutan saya yang masih belum bermetamorfosis menjadi gel itu, saya bawa pulang. Saya stirer di rumah. Dengan harapan semoga tidak terganggu dengan peristiwa mati lampu mendadak, dan bisa cepat bermetamorfosis sehingga bisa dilanjutkan ke tahap selanjutnya..


-Solo-
Stirer itu butuh berapa watt ya? ^^”