Rabu, 13 Juni 2012

Pagi Kuning keemasan


“Siap.. satu.. dua.. tiga..”, Adam membantu membuka penutup mataku.
Aku masih mengerjap-ngerjapkan mataku tak percaya. Sinar matahari pagi terlihat merona di langit pagi itu, merah yang berganti kuning keemasan membawa bola mentari naik perlahan. Hangatnya terasa lembut di kulit, diiringi debur ombak yang menjilati bibir pantai dan angin pagi yang menyegarkan. Ah, betapa sempurnanya pagi ini.

“Bagus banget, Dam.”, aku berbisik masih mengagumi keindahan lukisan Tuhan kali itu.
“Kamu nggak nyesel kan subuh-subuh udah aku ajak ke sini?”, Adam menggenggam tanganku.
Aku mulai salah tingkah.
“Eh, nggak. Beneran bagus banget.”, aku mengalihkan pandangan dari langit dan mulai mengamati pemandangan pulau ini.

Tadi sewaktu datang, langit masih gelap, aku hanya melihat sorotan silau mercusuar sebagai penunjuk arah bagi mereka yang sedang bertualang di lautan luas. Sekarang setelah datang pagi, mercusuar itu terlihat dengan jelas, Berdiri dengan gagah. Pantai yang cantik ini dikelilingi bebatuan granit yang cukup besar, dan airnya.. ah aku rasanya mau berendam di sana seharian. Degradasi biru dan hijau yang muncul karena pengaruh koral di dasarnya terlihat apik mengundang.

”Kok ngelamun?”, Adam menyentuh bahuku.
”Eh. Pulau apa ini namanya, Dam?"
"Ini Pulau Lengkuas. Luasnya hanya sekitar 1 hektar. "
"Nama pulaunya unik ya.", aku tersenyum membayangkan salah satu jenis bumbu masak.
"Begitulah.", kata Adam.
 "Eh, Dam. Jalan-jalan yuk. Aku pingin pergi ke mercusuar itu. Boleh naik ngga ya?”, aku melangkah cepat-cepat ke arah mercusuar.
”Boleh donk. Bapak pengemudi perahu tadi sudah berpesan kalau kita bisa naik ke Mercusuar itu. Tapi aku males, Din. Capek ah pagi-pagi disuruh naik begituan. Mana belum sarapan.”, Adam memasang muka memelas.

Aku tertawa dalam hati, dia yang mengajak ke sini kenapa malah dia yang malas mengeksplorasi?

”Terus kamu maunya di sini aja, gitu?”
”Iya. Kita menikmai pantai saja ya.”, Adam tersenyum padaku.
Aku mengalihkan pandanganku ke horizon, mentari sudah hampir sempurna lahir dari samudera.
”Baiklah.”, aku mengambil tempat duduk agak jauh dari posisi Adam. Lalu membuat sebuah gerakan di pasir pantai yang halus.
”Hei, Dam. Lihat. Aku bikin mlalaikat pasir.”, aku berdiri sambil menunjukkan hasil karyaku ke Adam.
”Kau aneh. Yang ad ajuga Snow Angel, masa bikin Snow Sand?”, Adam tertawa melihat hasil karyaku.
”Mana sayapnya ga imbang tuh gedenya.”, ia menjitak kepalaku dengan lembut.

Aku cengengesan. Tuhan, aku mau waktu berhenti saja saat ini. Di tempat ini. Begini.



”Dina, kalau kamu dibolehkan memutar balik waktu. Kamu masih mau nggak mengenalku lagi?”, Adam duduk di pinggir malaikat pasirku. Aku ikut duduk di sebelahnya.
”Hmm.. mungkin.”, jawabku ragu.
”Cuma mungkin? Huh. Dasar.”, Adam tertawa ringan.
”Siapa sih yang nggak mau kenal dengan cowok baik kayak kamu.”, aku menggodanya.
”Terus kamu mau jadi kekasihku, kan?”, Adam memasang wajah serius seketika.
Aku gugup bukan main. Kumainkan butiran pasir sambil menatap langit yang mulai biru.”
”Maksud kamu?”, tanyaku
”Kalau kita dibolehkan membalikkan waktu, maukah kamu jadi kekasihku?”
Aku mengamati Adam. Raut wajahnya dewasa meski umurnya hanya selisih 3 tahun denganku. Sepertinya hidup telah menempanya lebih keras daripada aku.

”Aku sayang kamu, Dam. Tapi asalkan keadaan kita nggak begini.”
Adam terdiam Menatapku lekat.

”Kamu benar. Ah, sayangnya kenapa begini ya cerita kita?”, Adam tertawa pahit. Tawa yang dipaksakan sehingga terdengar tidak pas dan tidak ikhlas.

”Kita balik yuk Dam. Nanti keburu dicariin Mama Papa”, aku menggandeng tangannya sambil berdiri.

Kami melangkah ke arah perahu berdua, aku membayangkan kalau saja saat itu kami dalam posisi berbeda.

5 bulan yang lalu aku mengenalnya pertama kali di rumah. Semenjak itu aku tahu aku jatuh cinta kepadanya. Sebulan kemudian ia menikah dan jadi anggota keluargaku. Lalu dua bulan yang lalu ketika istrinya melanjutkan kuliah di luar negeri, ia mulai sering mendekatiku. Ah rupanya ia juga jatuh cinta padaku.

Tapi toh terlambat, dia kakak iparku. Mana mungkin aku merebutnya dari Mbak Sinta, kakakku?





#15HariNgeblogFF Hari ke 2

Selasa, 12 Juni 2012

Menunggu Lampu Hijau


Aku berdiri tepat di depan menara jam gadang di bawah mentari yang bersinar terik. Keramaian membuatku sedikit penat, namun apalah daya, aku sudah terlanjur janji menunggu kamu di sini. Kulirik jam di tanganku, sudah telat 30 menit. Jika kali ini aku gagal mengatakan semuanya kepadamu, akan ada lebih banyak waktu yang kupakai untuk menunggu lagi.

”Maaf telat.”, suaramu mengagetkanku.
Aku tersenyum, senyum paling manis yang bisa aku berikan.
”Nggak apa. Tumben telat?”
”Iya, Mama minta diantar dulu ke supermarket”.
Lalu aku mengajakmu membeli es krim dari bapak yang sedang berjualan.

”Apa sih yang mau kamu sampaikan?”, katamu sambil menyesap es krim cokelat favoritmu.
”Makan es krim dulu yuk. Sambil cari tempat duduk.”, aku menggandeng tanganmu di sisi kiri dan tangan kananku memegangi cone es krim yang dipenuhi es krim stroberi, favoritku yang cocok menemani saat mentari bersinar dengan galak seperti siang ini.


Sebuah kursi taman terlihat kosong meski sebenarnya hilir mudik manusia seakan tak pernah usai. Aku mengajakmu duduk di kursi putih itu, nyaman karena terletak di bawah pohon rindang. Bahkan indahnya jam gadang masih teramati meski harus menerawang mengalahkan silau Sang Surya.

”Kamu ada perlu apa sih, La? Tumben ngajak ketemuan di sini.”, kamu mengamatiku.
Aku hanya tersenyum mengamati jarum jam di tangan sambil sesekali menoleh ke arah jam gadang.
”Kamu tahu, siapa yang menciptakan waktu?”, tanyaku.
”Maksudmu?”
”iya.. Waktu. Kira-kira siapa ya yang menciptakan dia?”
”Kamu ngomong apaan sih?”
”Ih beneran. Tau ngga, menurutku waktu itu dibuat oleh para pencinta. Sebab merekalah yang sebenarnya selalu menunggu waktu.”, aku memandangi wajahmu.
”Ini gara-gara aku telat ya? Maaf deh maaf”, raut wajahmu berubah lucu.

Aku tertawa. Tawa yang lepas hingga sebagian besar orang melirik ke arah kita.

”Nggak. Dewa, kita udah pacaran berapa tahun ya?”
”em.. sejak SMA kan. Ingat waktu pertama kali aku mengenalmu ketika upacara bendera di kelas 1? Ah berarti sudah.. 5 tahun ?”, kamu tersenyum sambil membelai kepalaku.
Beginilah, aku sendiri heran pada diriku. Kmau baik, kamu perhatian, kamu setia. Harusnya kamu bisa jadi sempurna. Tapi...

”Dewa, aku rasa hubungan kita sampai di sini saja ya.”, aku membuang pandanganku menerawang jauh ke langit biru.
Kamu terdiam. Entah sedang membayangkan sesuatu atau memang mencoba menyusun kalimat yang tepat. Tapi toh ketika memutuskan hubungan, tak akan pernah ada kalimat yang tepat.

”Kamu serius?”, akhirnya hanya itu yang kamu ucapkan.
”Yakin.”, aku memutar-mutar jam di pergelangan tanganku. Kebiasaan kalau aku mulai gugup.

”Kenapa?”, ah sudah kutebak pasti pertanyaan itu muncul.
”Sepertinya makin lama kita makin jelas berbeda.”, aku memaksakan sebuah senyuman. Kaku.
”Kamu tak ingin memikirkannya dulu?”
”Aku sudah memikirkannya lama, De.”
”Lalu nanti kalau aku merindukanmu?”
”Kita temenan saja ya. Kamu masih boleh kok bertemu denganku, tapi sungguh aku ngerasa kita udah nggak cocok lagi.”
Kamu menghela nafas. Berat. Es krim yang masih tersisa kau buang ke tempat sampah di dekat kursi taman kita.
”Tapi aku masih sayang kamu, La.”
”Maaf De, aku nggak bisa lagi menyayangi kamu lebih dari sekedar teman.”
”Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa.”, kita berjabat tangan dengan enggan.
Kamu membalikkan badan dan melangkah hilang dalam keramaian.

Tak ada air mata, tak ada pertengkaran, tak ada caci maki. Mengapa terlalu mudah, pikirku.

Biarlah, mungkin memang sudah saatnya kami berpisah.
Aku mengambil ponselku, menekan sebuah nomor kontak dan menunggu nada sambung.

”Halo.”
”Hai, ini aku, Lala.”
”Oh, ada apa, La?”
“Kamu tahu, Bang. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa mengatakan ini.”
”Apa?”
”Aku telah menyalakan lampu hijau buat kamu.”
”Jadi?”
”Ya, sekarang kita tidak perlu lagi pacaran diam-diam.”, aku tersenyum menatap jam gadang.

Benarlah, waktu hanya milik Sang pencinta. Ia ada karena rasa rindu dan ada untuk menunggu.


#15HariNgeblogFF2. Hari pertama.