Senin, 16 Mei 2011

Pratiwi Sudarmono


Saya baru tau kalau ada seorang wanita yang pernah akan menjadi astronot wanita pertama dari Indonesia waktu tahun 1986. Nama beliau adalah Pratiwi Sudarmono, lahir di Bandung dan mendapat gelar Master dari Universitas Indonesia pada tahun 1977, dan Ph.D. dalam Biologi Molekuler dari Universitas Osaka, Jepang, pada tahun 1984.

Space shuttle yang tadinya akan membawa Ibu Pratiwi ke bulan adalah Columbia, dengan kode misi STS-61-H.

Rencananya, penerbangan ini akan dilangsungkan pada 24 Juni sampai 1 Juli 1986, dengan susunan crew :

- Commander : Michael L.Coats (Engineer, Astronot- USA)

- Pilot : John Blaha (Fighter pilot-USA)

- Mission Specialist 1 : Anna L. Fisher ( Chemist -USA)

- Mission Specialist 2 : James F. Buchli (Engineer, Test Pilot – USA)

- Mission Specialist 3 : Robert C.Springer (Test pilot-USA)

- Payload Specialist 1 : Nigel Wood (Royal Air Force squadron leader – UK)

- Payload Specialist 2 : Pratiwi Sudarmono ( Microbiologist- Indonesia)

Back up crew :

- Payload specialist 1 : Richard Farrimond (UK)

- Payload specialist 2 : Taufik Akbar (Indonesia)

Misi ini adalah untuk membawa satelit komersial ke orbit, Skynet 4A (Inggris), Palapa B3 (Indonesia) dan Westar 6S. Tetapi berkenaan dengan tragedi Challenger pada Jan. 28, 1986, Semua penyebaran satelit komersial ke orbit oleh pesawat ruang angkasa dihentikan dan untuk beberapa tahun tidak ada astronot internasional yang dinominasikan kembali.

Skynet 4A akhirnya diluncurkan January 1, 1990 dengan menggunakan Titan III, Westar 6S berganti nama menjadi Galaxy 6 dan diluncurkan October 12, 1992 dengan menggunakan Arine 44L. Sedangkan Palapa B3 berganti nama menjadi Palapa B2P dan diluncurkan pada March 20, 1987 dengan menggunakan Delta-3920.

Saat ini Ibu Pratiwi masih menjabat sebagai wakil dekan Fakultas kedokteran Universitas Indonesia masa jabatan 2008-2012 dan beliau bergelut lebih jauh menjadi ilmuwan di bidang biologi molekuler.

Saat merangkum fakta fakta di atas, saya bingung antara bagaimana harus bersikap. Bangga, sebagai bangsa Indonesia tentunya karena ternyata pernah mengirimkan putera terbaiknya untuk akan diterbangkan ke luar angkasa. Saya tahu persyaratan dan pelatihan untuk menjadi astronot tidaklah mudah, apalagi untuk seorang wanita. Jadi kalau pada tahun segitu saja sudah ada wanita Indonesia yang diberikan kepercayaan NASA untuk menjadi astronot, saya juga gemes, apa iya sampai sekarang kita belum punya putera terbaik Indonesia lagi untuk dikirimkan ke luar angkasa sana?

Dan hey lihat, seorang ilmuwan juga bisa jadi astronot. Meski sayangnya anak anak sekarang mungkin hanya sedikit yang masih bercita cita tinggi kaya saya dulu, jadi astronot. Bukan mustahil, tapi ketinggian...Tapi kan kalo bermimpi jangan nanggung nanggung, asal tau resikonya kalau jatuh. Seorang chemist juga bisa jadi astronot, see.. meski kayaknya saya juga harus browsing artikel lagi buat mbuktiin beneran ada nggak chemist yang pernah jadi astronot ke luar angkasa beneran. :)

Tentu saya berharap saya masih hidup untuk punya kesempatan menyaksikan suatu saat nanti tentunya, salah seorang putera terbaik Indonesia menjadi astronot. Someday, somehow..


-Solo-

*Masih pengen jadi astronot

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar