Senin, 22 November 2010

Efek Pauli

Sore ini, hujan yang turun sedari siang telah menyisakan butir-butir gerimis di tepian tanah. Harumnya menguar ke udara, harum yang aku suka seperti damai yang tersebar ke mana-mana. Langit masih berwarna jingga, matahari sudah sampai di peraduannya. Seperti biasa aku dan Kim duduk-duduk di beranda rumah menikmati suasana senja. Biasanya kami saling bertukar cerita tentang kejadian yang kami lihat, alami, amati yang terjadi seharian ini.



Tadi Kim sudah bercerita bahwa hari ini dia menghadapi dosen yang menghabisi tugas research individunya. Tumben, pikirku karena biasanya dia selalu dipuji dosen-dosen mata kuliahnya tapi kali ini akhirnya ada juga dosen yang benar-benar mengimbangi pola pikirnya yang kadang berani. Kim bercerita bahwa dosen seperti inilah yang ia tunggu-tunggu, yang mampu melihat dengan benar dan tidak asal mengiyakan saja pendapat-pendapatnya. Besok ia akan menemui dosen ini lagi, sehingga malam ini tugas research itu harus selesai ia benahi kembali.



Lalu Kim bertanya dengan hariku yang kuhabiskan di laboratorium seharian ini.



” Gimana dengan harimu, Mel ? ”

”Aku? Hari ini spektrofotometer yang akan kupakai rusak. ”, kataku dengan mulut mengerucut.



”Lagi ? Oh Ya ampun, Mel. Terus bagaimana ?”, tanya Kim.

” Akhirnya aku terpaksa pergi menganalisa ke departement pusat, tinggal di sana satu-satunya spektrofotometer yang tersisa. ”, aku memaksakan satu senyum padanya. ”Hahahaha, kau tahu , Mel. Kau mirip sekali dengan Pauli, Wolfgang Pauli. Kau tentunya tahu siapa dia kan ? ”, Kim tertawa.



” Ya, Penemu asas Pauli itu, kan? Tentu saja aku tahu, Kim. Hari-hariku dihabiskan untuk mengikuti aturan elektron yang satu itu. ”, jawabku.

”Eh, memangnya ada apa dengan Pauli ? ”, aku jadi penasaran dan menanyakannya kepada Kim.



”Yang aku ingat, Ketika ada Pauli di suatu tempat maka akan selalu ada alat rusak di sekitarnya. Kurang lebih seperti itulah, sebentar aku ambilkan bukunya. ”, Kim beranjak masuk ke dalam rumah.



Selang beberapa menit kemudian, ia keluar sambil membawa satu buku tipis dan menjinjing tas netbooknya. Saat itu aku tahu, ini pasti benar-benar ada, karena kalau Kim hanya bercanda, dia tidak akan mengeluarkan netbook berharganya itu ke teras rumah.



Buku itu berjudul ”Teori Kuantum For Beginner”, buku yang sudah aku beli dari dulu sekali tapi baru aku buka separuhnya. Aku yakin pasti malah Kim yang sudah selesai membaca hampir semua buku yang ada di rumah ini, termasuk buku-buku kuliah ekonomi miliknya yang dari tebalnya saja sudah menghilangkan minatku untuk membacanya.



” Ini, buka dan bacalah lagi. Sementara itu, aku coba carikan di dunia maya tentang efek pauli itu apa. ”, ia menyerahkan buku Teori Kuantum itu kepadaku lalu membuka netbook dan mulai asyik browsing di layar mungilnya.



” Ini, lihatlah. ”, katanya menunjukkan layar netbooknya sebelum aku selesai membaca tentang Pauli di buku yang kupegang.



Wolfgang Pauli adalah salah satu raksasa Fisika Kuantum yang kita kenal dari SMA dengan Prinsip Pauli-nya. Mungkin kita juga perlu mengenal Prinsip Pauli kedua yang diamati banyak orang di sekitarnya atau lebih dikenal dengan Efek Pauli , yaitu setiap pendekatan oleh Pauli akan mengakibatkan kerusakan pada perangkat di sekitarnya.



- Bahkan konon ledakan yang menghancurkan Departemen Fisika Universitas Bern terjadi waktu kereta yang dinaiki Pauli ke rumahnya di Zurich melewati Bern.



- Fisikawan Casimir bercerita tentang sebuah paparan fisika oleh fisikawan Heitler tentang ikatan homopolar. Pauli tampak menahan kesabaran waktu mendengarkannya. Waktu boleh memberi komentar, Pauli langsung maju. Heitler duduk di sebuah kursi di ujung Podium. Pauli mulai menyerang, “Pada jarak jauh, teori ini salah akibat adanya daya tarik Waals. Pada jarak dekat, kita tahu, jelas-jelas salah juga.” Lalu ia berjalan sambil terus mendekati Heitler. “Namun ada yang memberi pernyataan bahwa sesuatu yang salah baik pada jarak jauh maupun pada jarak dekat, mungkin bisa secara kuantitatif benar pada jarak menengah.” Sekarang ia sudah dekat pada Heitler. Heitler memundurkan kursinya, yang tiba-tiba saja punggungnya patah dan membuat Heitler terjatuh. George Gamow yang juga hadir langsung berteriak, “Efek Pauli!”



- Karena ketakutan akan efek Pauli, seorang fisikawan eksperimental Otto Stern melarang Pauli ada di laboratoriumnya di Hamburg meskipun mereka bersahabat.



- Sebuah alat ukur mahal, tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba berhenti bekerja, walaupun Pauli ternyata tidak ada. James Franck , direktur lembaga ini melaporkan kejadian kepada rekannya Pauli di Zürich dengan pernyataan lucu bahwa setidaknya saat ini Pauli tidak bersalah. Namun, ternyata Pauli berada dalam perjalanan kereta api ke Kopenhagen dan sedang berganti kereta di stasiun kereta api Göttingen pada saat alat itu tiba-tiba berhenti bekerja.



- Pada tahun 1934, Pauli melihat kegagalan dari mobilnya selama tur bulan madu dengan istri keduanya sebagai bukti efek Pauli yang nyata karena terjadi tanpa penyebab eksternal yang jelas.



Efek Pauli, jika itu nyata, akan diklasifikasikan sebagai fenomena makro-psykokinetik.



” Bagaimana ? ”, tanya Kim kepadaku.

Aku masih setengah menahan tawa, bagaimana mungkin seseorang bisa dikait-kaitkan dengan alat rusak.



”Aku.. hahaha.. Aku tak akan percaya kalau tak mengalaminya sendiri. Ya, setidaknya Pauli menjadi seorang ahli teori yang sangat terkenal dan diakui di dunia keilmiahan. Meskipun ternyata dia cukup tidak bersahabat dengan alat-alat eksperimental. ”, Aku tertawa terbahak-bahak.



” Coba kau bandingakn dengan dirimu itu, sudah berapa alat yang tiba-tiba saja rusak ketika kau akan memakainya ? ”, Kim bertanya kepadaku.

”Ya, baru 5 buah sih, tapi itu kesemuanya alat analisis yang mahal. Kalau untuk alat-alat kecil dan sederhana aku tidak begitu mengingatnya. ” , jawabku.



” Ya, aku rasa kau punya kemiripan dengan Pauli . ”, Kim tersenyum sambil menutup netbooknya.



”Asal yang mirip yang baik-baik aja sih, nggak masalah. Ya, setidaknya aku tahu bahwa dari jaman dulu sudah ada seorang scientist yang selalu bermasalah dengan alat. Meski akhirnya dia tetap menjadi ahli yang terkenal. ”, aku menutup bukuku dan mengajak Kim masuk ke dalam rumah.



Di luar rumah, hujan telah berhenti dan malam telah turun sempurna memperlihatkan keanggunannya.







-Solo-

Thanks to my husband atas Info Paulinya

^^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar