Sabtu, 30 April 2011

Me and Books

Saya bersyukur punya rumah yang bertebaran buku di mana-mana. Tidak semua ruangan sih, dapur dan kamar mandi serta loteng adalah wilayah bebas dari buku. Sedang sisa ruang lainnya selalu berceceran buku atau kertas-kertas tulisan atau majalah dimana-mana. Suami sebenarnya tipe yang suka kerapian, meski saya juga suka, tapi saya termasuk ibu-ibu yang rela memberikan waktunya untuk menata suasana rumah hanya di pagi hari. Maklum, punya seorang anak kecil bukan perkara mudah untuk membuat suasana rumah rapi, malah kalo rapi berasa ada yang kurang.

Orang-orang terdekat saya tahu, bahwa saya amat suka terhadap buku bacaan, saya punya banyak buku pelajaran di lemari 2x1 meter yang sejujurnya jarang saya baca. Hanya perasaan puas ketika melihat jejeran buku-buku itu di lemari saya. Untuk koleksi bacaan saya, suami menjadikan satu dengan koleksinya, meski dampaknya adalah suasana yang berjejalan dan bertumpukan. Lemari 2x1,5 meter masih kurang buat naruh itu buku-buku. Kayaknya kami butuh satu lemari lagi untuk menampung buku-buku yang kami beli akhir-akhir ini.

Saya bukanlah seorang yang selalu membeli buku baru setiap minggu atau setiap bulannya. paling cepat hanya 6 bulan sekali, meski dalam waktu itu saya bisa membeli sekaligus 5-6 buku. Tapi saya suka membaca, Papa bilang saya mewarisinya dari Mama. Mama adalah wanita yang suka sekali membaca, tiap bulan ia berlangganan majalah dan akibatnya saya juga ikut berlangganan sejak kecil. Bobo, Ananda, Hoplaa, adalah sedikit dari bacaan saya sewaktu kecil. Termasuk di dalamnya buku komik yang biasanya diberikan jika saya juara kelas.

Sampai sekarang, saya membiasakan anak saya untuk menyukai buku sejak kecil. Dari umur 4 bulan, saya sudah membelikannya buku dari kain yang bisa dia remas-remas sehingga nggak perlu khawatir digigit atau dikunyah kunyah sama dia. Setelah mulai bisa duduk, dia mulai saya belikan majalah dari kertas yang ada banyak gambar-gambar dan warna. Terkadang bahkan laporan ptugas praktikum saya ikut jadi korban. Tapi tak apa, beberapa buku mengijinkan untuk mengasah gerak motorik halus anak terutama saat ia membalik halaman buku. Meski demikian, untungnya Oryz bukan tipe pemakan segala, jadi buku-buku itu lebih sering ia robek robek daripada ia masukkan kemulutnya. Mungkin karena rasanya juga nggak enak kali ya. Sampai saat ini, buku dan majalah (dari kertas) koleksi Oryz baru memenuhi dua rak di lemari kotaknya, masih sedikit sih, tapi dia sudah mulai menikmati membaca buku atau majalah kesukaannya.

Sekarang setelah menjadi Ibu, saya bersyukur masih bisa meneruskan hobi membaca dan mengoleksi buku. Meski tidak selalu punya buku baru, kalau sudah kumat saya sering menyewanya dari rental, tentu dengan batas swaktu yang amat terbatas, contohnya Harry Potter atau buku-buku lainnya yang setebal kamus bahasa inggris-indonesia hanya bisa dipinjam selama 3 hari. Tentunya saya lebih suka mengamini deadline itu, karena daripada kena denda saya lebih suka uangnya untuk meminjam buku lainnya lagi. :p

Sekarang saya sedang belajar menulis. Ternyata merangkai cerita fiksi itu TIDAK MUDAH. Saya ulangi, tidak mudah. Susah untuk menentukan klimaks cerita dan endingnya, saya lebih suka menulis puisi meski nggak pernah diterbitin media. Hehehh.. Mungkin saya Cuma bisa menjadi pembaca yang baik daripada sebagai pembaca dan penulis cerita. Biarlah, tidak semua orang harus pintar membaca dan merangkai cerita kan?

Sabtu, 16 April 2011

Perempuan (saya) dan puisi

Hari ini ada acara di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo. Diskusi tentang tema perempuan dalam puisi. Kemaren taunya juga karena diinformasikan sama mbak Iput dari Pawon Sastra. Tadi di suruh ngomong dikit sih, tapi karena saya juga baru pertama kali ikut kegiatan mereka, saya masih jadi pendengar dan pengamat dulu saja deh. Belum, saya belum siap untuk diskusi, secara ya, biasa diskusi tentang jurnal ilmiah di kampus, ato diskusi film di rumah sama ayah, tapi saya belum pernah ikut diskusi sastra. Apalagi yang temanya perempuan.

Gimana tadi kesannya? Saya terkejut sebenarnya, maklum saya tidak terbiasa menyimak secara langsung diskusi diskusi yang nyastra abis. Bahasanya bahasa sastra, yang di bahas pun juga tentang kesusastraan dan filosofi. Saya yang basicnya dari science enjoy, meski ada kata kata yang masih awam, ada juga yang bahasanya njelimet nggak to the point. Tatpi secara keseluruhan saya suka acara seperti ini, membuka cakrawala baru saya tentang para manusia sastra secara langsung, melihat dan mendengar mereka berdiskusi. Mungkin saya akan datang lagi kalo ada acara bginian.. ^^

Bagaimana puisi dalam keseharian saya sebagai perempuan?

Saya suka membaca dari kecil, meski demikian sya baru memulai menulis puisi ketika SMP. Yah walaupun satu satunya karya saya yang berhasil diterbitkan adalah ketika kelas 3 SMA, di majalah sekolah waktu itu. Dan Cuma sekali itu, karena saya juga nggak pernah menang lomba dan puisi saya juga belum pernah dimuat di media cetak lainnya.

Tapi saya masih tetap suka menulis puisi, saya memang tidak atau mungkin belum bisa disejajarkan dengan mbak-mbak dan mas-mas para sastrawan dan sastrawati yang telah menerbitkan buku puisi perempuan mereka atau antologi puisi mereka. Saya juga nggak berbakat nulis cerpen, karena repotnya saya nggak bisa menentukan klimaks cerpen itu sendiri. Saya masih golongan kasta rendah kalo di kelas kelaskan.

Blog saya juga tidak sering dibaca orang, kebanyakan hanya karena mencari artikel tertentu bukannya membaca hasil tulisan saya. Lalu kecewakah saya? Sejujurnya, tidak. Saya menulis memang untuk saya sendiri, puisi adalah identitas yang mampu menggandengkan saya dari alam imajinasi ke alam duniawi. Alam mimpi dan alam nyata. Cukupkah sampai disitu? Sejujurnya, siapa sih yang nggak mau karya sastranya dinikmati orang lain, dikritisi, dipuji, dicaci, dimaki.. Agar bisa menjadi karya yang lebih baik. Agar nantinya puisi menjadi lahan pembelajaran saya khususnya sebagai pencinta sastra.

Saya suka keduanya, membaca dan menulis. Sebagian besar tulisan di blog saya isinya puisi, sebagian lagi cerita saya, pengalaman saya yang mungkin memang nggak bisa dijadikan puisi, tapi lebih menceritakannya kepada pembaca secara langsung.

Lalu hubungannya saya sebagai perempuan?

Puisi adalah cara saya curhat. Tetntang hidup, tentang alam, tentang ritme keduniaan, tentang cinta, tentang kesedihan, tentang apa saja yang bisa saya ubah menjadi susunan kata. Beberapa orang menyukai puisi saya, tapi saya tahu bahwa banyak orang juga yang tidak menyukai puisi sya. Lalu kenapa? Manusia baik apapun jenis kelaminnya, saya rasa mereka berhak menyuarakan emosi mereka dalam bait puisi. Tanpa perlu dibanding-bandingkan, atau dikotak-kotakkan.

Saya sebagai individu lebih setuju bahwa di dunia puisi khususnya, tidak ada pemisahan gender. Ia tak serupa tapi sama. Masing-masing individu menyuarakannya dengan kekuatannya sendiri-sendiri, dengan ciri khas masing-masing penulis. Biar perempuan, kalau ia belum mampu, katakan saja belum, Biar ia lelaki pun juga begitu. Seperti yang dibahas tadi di diskusi, jika puisi itu adalah produk, biar konsumennya yang menilai siapa yang memiliki karya yang baik dan mana yang kurang.

Toh masing-masing orang diperbolehkan memiliki pandangan yang berbeda dalam menanggapi sebuah puisi.

-Solo-

160411