Kamis, 03 November 2011
Puisi, Hujan
Seperti lagu yang mengiringi hari
Seperti cinta yang menyemaikan banyak mimpi
Sudah lama aku berhenti menulis sajak tentang hujan
Ia pernah hilang, tergantikan rutinitas hidup yang berjalan
Pelan-pelan, setahap
Lalu ternyata tetap berhenti di persimpangan
Menemui hujan, lagi kali ini dalam diam
Hilang hingar bingar yang dulu ada
Hujan telah menjelma dalam sebuah cerita yang baru
Dalam detak jantung yang memburu
Ketika ia turun dekat bersamaku
Minggu, 26 Juni 2011
Kita
Sabtu, 16 April 2011
Perempuan (saya) dan puisi
Hari ini ada acara di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo. Diskusi tentang tema perempuan dalam puisi. Kemaren taunya juga karena diinformasikan sama mbak Iput dari Pawon Sastra. Tadi di suruh ngomong dikit sih, tapi karena saya juga baru pertama kali ikut kegiatan mereka, saya masih jadi pendengar dan pengamat dulu saja deh. Belum, saya belum siap untuk diskusi, secara ya, biasa diskusi tentang jurnal ilmiah di kampus, ato diskusi film di rumah sama ayah, tapi saya belum pernah ikut diskusi sastra. Apalagi yang temanya perempuan.
Gimana tadi kesannya? Saya terkejut sebenarnya, maklum saya tidak terbiasa menyimak secara langsung diskusi diskusi yang nyastra abis. Bahasanya bahasa sastra, yang di bahas pun juga tentang kesusastraan dan filosofi. Saya yang basicnya dari science enjoy, meski ada kata kata yang masih awam, ada juga yang bahasanya njelimet nggak to the point. Tatpi secara keseluruhan saya suka acara seperti ini, membuka cakrawala baru saya tentang para manusia sastra secara langsung, melihat dan mendengar mereka berdiskusi. Mungkin saya akan datang lagi kalo ada acara bginian.. ^^
Bagaimana puisi dalam keseharian saya sebagai perempuan?
Saya suka membaca dari kecil, meski demikian sya baru memulai menulis puisi ketika SMP. Yah walaupun satu satunya karya saya yang berhasil diterbitkan adalah ketika kelas 3 SMA, di majalah sekolah waktu itu. Dan Cuma sekali itu, karena saya juga nggak pernah menang lomba dan puisi saya juga belum pernah dimuat di media cetak lainnya.
Tapi saya masih tetap suka menulis puisi, saya memang tidak atau mungkin belum bisa disejajarkan dengan mbak-mbak dan mas-mas para sastrawan dan sastrawati yang telah menerbitkan buku puisi perempuan mereka atau antologi puisi mereka. Saya juga nggak berbakat nulis cerpen, karena repotnya saya nggak bisa menentukan klimaks cerpen itu sendiri. Saya masih golongan kasta rendah kalo di kelas kelaskan.
Blog saya juga tidak sering dibaca orang, kebanyakan hanya karena mencari artikel tertentu bukannya membaca hasil tulisan saya. Lalu kecewakah saya? Sejujurnya, tidak. Saya menulis memang untuk saya sendiri, puisi adalah identitas yang mampu menggandengkan saya dari alam imajinasi ke alam duniawi. Alam mimpi dan alam nyata. Cukupkah sampai disitu? Sejujurnya, siapa sih yang nggak mau karya sastranya dinikmati orang lain, dikritisi, dipuji, dicaci, dimaki.. Agar bisa menjadi karya yang lebih baik. Agar nantinya puisi menjadi lahan pembelajaran saya khususnya sebagai pencinta sastra.
Saya suka keduanya, membaca dan menulis. Sebagian besar tulisan di blog saya isinya puisi, sebagian lagi cerita saya, pengalaman saya yang mungkin memang nggak bisa dijadikan puisi, tapi lebih menceritakannya kepada pembaca secara langsung.
Lalu hubungannya saya sebagai perempuan?
Puisi adalah cara saya curhat. Tetntang hidup, tentang alam, tentang ritme keduniaan, tentang cinta, tentang kesedihan, tentang apa saja yang bisa saya ubah menjadi susunan kata. Beberapa orang menyukai puisi saya, tapi saya tahu bahwa banyak orang juga yang tidak menyukai puisi sya. Lalu kenapa? Manusia baik apapun jenis kelaminnya, saya rasa mereka berhak menyuarakan emosi mereka dalam bait puisi. Tanpa perlu dibanding-bandingkan, atau dikotak-kotakkan.
Saya sebagai individu lebih setuju bahwa di dunia puisi khususnya, tidak ada pemisahan gender. Ia tak serupa tapi sama. Masing-masing individu menyuarakannya dengan kekuatannya sendiri-sendiri, dengan ciri khas masing-masing penulis. Biar perempuan, kalau ia belum mampu, katakan saja belum, Biar ia lelaki pun juga begitu. Seperti yang dibahas tadi di diskusi, jika puisi itu adalah produk, biar konsumennya yang menilai siapa yang memiliki karya yang baik dan mana yang kurang.
Toh masing-masing orang diperbolehkan memiliki pandangan yang berbeda dalam menanggapi sebuah puisi.
-Solo-
160411
Jumat, 15 April 2011
Hitam #2
Pun saat maut mendekati jiwamu
Jiwa kita yang lunas sengsara dan kecewa
Bagiku hadirmu menerangi dunia
Denganmu aku merasa sama
Tanpa membandingkan siapa yang suci
Siapa yang lebih wangi
Kita terduakan dari semesta yang pilu
Dan waktu yang menggoreskan abu-abu di bayangan kita
Serta nestapa yang menjadi surga lara
Meski para suara itu tahu mereka butuh kita
Pucuk-pucuk langit yang kelam
Untuk menegaskan putih mereka yang merintih
Perih
Kecupan dingin adalah permata dalam sukma
Atau angkara yang berakhir dengan air mata
Kau dan aku adalah lonceng-lonceng kedamaian
Yang sepi, yang datang dari nurani
Dan setia bahkan hingga pagi
-Solo-
110411
Senin, 22 November 2010
Peristiwa pagi
Saat kau tengadah
Dan langit menyapamu dengan jingga
Saat kau melangkah
Dan bumi membasuhmu dengan embun yang basah
Biar dijemput hingar bingar malam
Pagi selalu menenangkan
Seringnya selalu sepi
Hingga kau merasa pagi diperuntukkanmu sendiri
Pagi adalah tempat
Di mana kita mulai berlarian menggores hari
Di mana kita bangun dan menyandingi mimpi
Selalu ada yang istimewa pada pagi
Kelabu kabutnya
Putih awannya
Jingga langitnya
Dan kau, bagiku seperti pagi
Selalu memberikanku sesuatu untuk kudapati
Sabtu, 03 Juli 2010
-Aku ada-
Aku sadar aku hadir
Walau kadang diam
Seringnya tak paham
Tapi aku tahu aku ada
Sedikit berbagi walau tak mengerti
Sederhana mengucap biar diam pun tetap mendekap
Kau di sini dan aku di sini
Namun yang ada hanya lengang
Yang berujung sepi dan kesendirian
Bicaralah,
Karena aku tak bisa bahasa hati
Katakanlah,
Walau akhirnya aku juga tak mengerti
Aku hanya ingin sedikit menenangkanmu
Dalam pelukku
Lewat kecupku
Aku hanya ingin kau tahu,
Aku ada..
-Solo-
*Aku ada,_Dee_
-Ini aku-
Yang membawa waktu berlalu
Menghujamkan kenangan yang tak kurang terasa pilu
Ini aku dan gelapku
Biar bermahkotakan gemintang
Yang benderang
Tapi sepi tetap menjadi teman terbaikku
Ini aku dan kelamku
Sapalah wahai kau yang merasakan rasa itu
Ketika sekilas ada hati yang terbias
Dan aku di sini bersama egoku
Cukuplah aku mengendapkan laraku
Menikmati ingatan yang menderu
Lalu luruh di pelataran hatimu
Ini aku ini jiwaku
Untukmu satu
-Solo-
*And the story goes..
-200- Cerita tentang kita
Dan aku benci harus merasakannya lagi
Terlalu perih
Karena hanya ada aku dan lukaku
Hanya ada aku dan air mataku
Dan aku lelah harus meneteskannya lagi
Terlalu sakit
Ah, Bulan
Jika saja malam ini cahayamu mampu masuk ke nuraniku
Yang gelap Yang senyap
Dan menguapkan tangisku, gundahku
Sedang angin menambah sendu duniaku
Langitku, bintangku
Dan aku?
Menegarkan diri saat semua teragukan lagi
Menata hati saat ia berserakan lagi
Menguatkan batin ini agar ia tak berkecamuk lagi
Biar kesah
Biar lelah
Dan semua takkan sama lagi
Setelah aku kau lukai
-Solo-
*200
Satu cerita tentang kita
Adakah yang salah di antara kita
Ketika semesta menyempit
Menyisakan ruang hanya untuk kita berdua
Merajut kata lewat diam
Menyampaikan asa lewat kedipan mata
Sedang kesunyian telah mendekap erat dunia
Keremangan cahaya hanya menyusup lewat jendela hati kita
Yang telah terpatri
Mati
Dan purnama menjadi saksi pembicaraan kita
Lewat nafas yang seumpama cerita
Lalu terbawa angin yang hilang begitu saja
-Solo-
*250610
Puisi di pagi hari
Yang semuanya terasa kelu
Tak mampu lagi kusingkirkan rasa itu
Kubiarkan terasa
Biar lara
Dan tak kutemukan bahagia
Biar saja,
Karena itu kubiarkan saja rasa
Sebab kali ini tak ada lagi biru di langitku
Sebab telah kutetapkan malam menjadi pelindungku
Langitku..
Tumpuanku..
Dan kuredam semua isak yang terasa sesak
Inilah aku dan lautan egoku
Membisu walau inginnya ucap beribu
Kujalin cerita
Dan kuberdendang dengan sepi
Hingga ia masuk dalam mimpi
Lalu membuat luka lagi
Tapi kubiarkan saja,
Karena tanpa luka dan air mata
Takkan mampu kurasa bahagia
-Solo-
*Ini pagi yang sepi
Cerita (Kisah tentang hati)
Dan kutinggalkan jejak di malam yang perawan
Perlahan menghitam
Melelapkan kehidupan
Ketika semesta memusat pada mimpi
Lalu terkenang jiwa dan hati
Yang ingin kembali
Meresah walau sempurna sudah
Menggundah biar terjawab sudah
Sedang waktu berhenti
Mati
Dibenamkan sepi
Lalu kelanalah aku di tiap sisi hati
Sendiri
Sunyi
Dan kulakukan berkali kali
Hingga mentari terbit menghidupkan waktu lagi
-Solo-
*Cerita tentang hati
Pagi ini
Di tengah jelaga yang memekat
Dan deru hidup yang berlalu
Aku mencarimu
Berharap sekilas saja dapat kutemukan bayangmu
Senyummu di tengah ruahnya inginku
Pagi ini kuhimpitkan sakit yang menyesaki kepalaku
Hingga sempit
Lalu kusisakan ruang untukmu
Agar singgah sejenak kau di hariku
Memenuhi cinta di setiap nadiku
Mengisyaratkan bahagia di tengah luka yang mendera
Ijinkan skali saja kunikmati bayangmu
Pagi ini
Di sendiriku
-Solo-
*Pagi ini di logikaku
Sabtu, 19 Juni 2010
Bintang itu..
Karena sebuah bintang telah bertahan di langitku
Saat kegelapan menelan yang lainnya
Ketika kelam menampakkan kehebatannya
Tapi aku tahu malam ini tak kelabu
Biar bulan menyerah untuk berhenti menampakkan rautnya
Biar angin menderu dengan kencangnya
Aku tahu malam ini tetap tak kelabu
Karena malam ini ada satu bintangku di langit itu
Ada satu harapanku yang bertahan di hidupku
Ada satu rasa yang akan tetap di hatiku
Terimakasih karena kau mau bertahan bersamaku..
-Solo-
*I Love you, cinta..
Panggil saja , rasa
Berhenti berdetak
Berhenti bergerak
Hanyut tersapu gelombang pasang
Bersedekap di bibir pantai
Disirami bulan
Ditemani bintang
Tapi rasa itu tetap hilang
Tak mau bertahan
Tak ingin tertahan
Tergoyahkan, mungkin
Teragukan, mungkin
Dan lara yang mengajariku melepaskan
Dan luka yang menempaku menguatkan
Sebab satu rasa telah hilang
Dan kubebaskan ia pergi menghilang
Sebab dengan itu kutemukan kebebasan
-Solo-
*Temaram kota, temaram lampu, temaram malam
-Malam-
Pekat merayap dalam kehampaan
Dan sepi mengheningkan dunia dalam genggaman
Sedang aku?
baiklah, aku mulai mengagumi malam
Kubiarkan dinginnya menusuk mematikan angan
Kupersilakan bintangnya menyinari menenangkan
Sedang aku perlahan mulai terpesona dengan malam
Saat di mana ada jeda antara aku dan rasa
Ada batas antara kata dan irama
Dan saat dimana aku bebas mendengarkan semesta
Ya, aku rasa malam telah menaklukan kesombonganku
Karena aku tahu, aku mulai mengharapkan malam hadir di tiap lelahku
-Solo-
*Kau diam dan akupun menikmati malam
Jumat, 04 Juni 2010
kuterjemahkan malam
Dengan sekeping pengharapan keadaan
Adakah akhirnya aku mampu memahami malam
Sedang tiap kerjap bintangnya membisikkan keraguan
Dalam tiap desiran anginnya menyampaikan ketidakpastian
Lewat sinar rembulannya mengisyaratkan kegalauan
Dan aku masih disini
Merangkai tiap isyarat yang disampaikan malam
Lewat jemari mimpi yang tak berhenti menata hati
Dengan asa yang menguatkanku akan semuanya
Adakah yang lebih berharga dari hati?
Sebab hanya dengan itu kuartikan sepi
Berjuang mematahkan ego diri
Menghapus keraguan mereka yang mungkin terlalu peduli
Yang aku butuhkan hanya malam yang terjemahkan hati
Bukan ragu atau luka yang kelak tertorehkan lagi
Kamis, 27 Mei 2010
ruang rindu
Ada rasa yang berserak
Dalam benak
Lewat isak
Dengar, dengar suara hati
Ada sebait rindu bersenandung di sana
Ada seutas harap untuk kembali bersitatap
Menggelar tawa
Mengumbar air mata
Menguntai cinta
Menyembuhkan luka
Sepahit ini awalnya
Sebab nanti akan datang suatu waktu dimana kita
Berjalan dibatas lara
Terjarak ruang yang berbeda
Ah, biar merenda sepi ini sendiri
Suatu nanti jika kalian kembali
Akan kubingkiskan berjuta cinta dalam hati
-Solo-
*Tiba tiba Buki kangen kalian...
hitam
Mungkin lara mungkin luka
Bisa juga itu kelam
Teronggok kedinginan
Menunggu keyakinan
Yang tertahan karena angan
Karena sepi yang menenggelamkan
Ketika tak lagi ada kisah itu
Pilu dan luka yang menjadikan kita satu
Dan terhempas dalam jurang kegelisahan
Tersesat di persimpangan perasaan
Sebab malam sebab hitam
Karena penat karena pekat
Dan yang kuinginkan sekarang hanya sedikit saja percaya
Bahwa aku mampu mengakhiri ini semua
-Solo-
*Aku hanya ingin bahagia
aku
Ada luka
Ada lara
Ada dusta
Ada nista
Aku
Tentang kamu
Tentang dia
Tentang kita
Tentang mereka
Aku
Keabadian yang membuat kita merasa jemu
Yang mengetuk diam diam pintu hatiku
Lalu pergi tanpa sempat kurasakan satu satu
Aku
Selalu tentang aku
Yang segalanya hanyut bersamamu
Merangkai luka dalam jiwaku
Aku
Kamu
Kita yang tak pernah satu
Yang merenda dalam senyap
Lalu luruh dalam gelap
-Solo-
Selasa, 18 Mei 2010
Sepena cinta
Menghitam mengelam
Walau hari bukanlah malam
Takkan kubiarkan kau berjelaga
Dan menggenang dalam luka
Maka biar kuhapus setitik air mata itu
Kubagi separuh beban itu
Kuhilangkan senoktah ragu itu
Biar ku balut luka yang tersembunyi dalam jiwa
Ku sisipkan tawa
Dalam kerumunan duka yang menggila
Sebab tak hilang duka itu kau gurat sendiri
Tak lenyap air mata itu kau alirkan sendiri
Maka ijinkan aku berbagi
Walau hanya sedikit saja mengurangi
Biar kau tahu, aku selalu ada di sini
-Solo-
*Sepena cinta untukmu yang mungkin terluka