Minggu, 24 Juli 2011

Rutinitas

Mungkin aku perlahan menjauh dalam keseharian yang berkutat dengan luka dan tidak lagi membersamaimu dengan lagu kita yang penuh tawa seperti dulu. Hidup mengajariku bahwa dunia penuh dengan orang-orang misterius. Yang melangkahkan kaki mereka ke arah yang tidak sesuai dengan kata hati mereka. Mungkin aku sudah termasuk di antara gerombolan manusia seperti itu. Rutinitas membekukanku seperti air dibekukan dingin. Aku tak bisa lagi mengejar kupu-kupu di taman berbunga, duduk di bawah rindangnya pepohonan depan rumah, atau menikmati santap siang sepiring berdua denganmu. Sungguh, rutinitas mungkin benar-benar mengikatku. Sesekali aku masih ingin menatapi langit lalu bercerita denganmu, menuliskan lembar kisah kita di buku harian biru seperti dulu yang kini halaman berikutnya kosong. Aku telah berhenti menuliskan jejakmu di hatiku. Tidak, aku tidak akan menghilangkannya, aku hanya berhenti. Mencari seluang kesempatan agar aku mampu lagi menuliskan jejak kita seperti dulu, seperti langit siang, langit sore yang menghidupkan kehidupanku. Mengacaukan aku dari rutinitasku. Membiarkan ide mengaliriku.

Minggu, 26 Juni 2011

Kita

Hidupmu tak pernah jauh-jauh dari kisahku. Kita bertemu di bawah langit biru, tempat semesta berarak menemukan palung kehidupan yang nyata. Kita beradu dalam seru, dalam tanya dan dalam koma yang menjadikan lagu kita seirama. Aku tak pernah jauh-jauh dari hatimu. Bersama gemuruh kacau kita terseok melangkah di jaman yang mendorong kita mundur kebelakang. Jauh di pelataran kebengisan, hidup yang pas-pasan, dan kita menjadi pesakitan. Dunia tak butuh aku atau kamu, tapi kamu butuh aku seperti aku membutuhkan nafasmu. Sejauh telapak tangan kita berpisah, sejauh itu pula kita melangkah membelah arah. Bahasa dunia menyatukan kita lewat rima, lewat baris dan lewat kata yang kau sentuhkan di lembar kertas tua. Semua terasa seperti biasa. Huruf yang tak sama, warna yang berbeda. Namun kau smenghadirkan sesuatu yang lain untuk ku kecap, untuk terasa di otakku yang kaku, untuk membekas di hatiku yang pilu. Ya, kau dan aku adalah nostalgia yang tersapu badai waktu. Datang pulang bersama angin yang bertiup dengan kenangan.