Sabtu, 21 Februari 2026

Bulan ketujuh setelah kau pergi

Bulan ketujuh dari kepergianmu. Puasa pertama setelah 20 kali ramadhan kulalui bersamamu. Rasanya? Sepi. Hahaha. Literally sepi yang biasanya habis magrib udah njogrok depan tipi nungguin sidang isbat, tahun ini tipi masih nyetel tampilan cctv. Sidang isbat kayak ga ada seru serunya lagi (ya emang kaga seru sih). Tahun tahun lalu biasanya aku akan mengirimkan pesan singkat berisi keputusan sidang sementara kau di masjid buat ngasih pengumuman ke jamaah. Tahun ini, ngga ada antusias itu lagi. Ya iya sih sapa yang mau dikirimin.


Tahun tahun sebelumnya kita berbagi belanja takjil, kau menyiapkan es dan aku makanannya. Tahun ini aku bahkan ngga kebayang mau buka puasa pakai apa aja. Air putih pun kurasa cukup. Yang lebih sepi, tahun ini ngga ada lagi sparing partner dalam beribadah. Aku kadang rindu celoteh sombongmu yang makin memotivasiku untuk bisa menyaingi. Tapi siapalah aku hahaha. 

Tujuh bulan ini kegiatanku banyak, aku mendengarkan banyak podcast (kebanyakan dari Ust. Firanda) terutama temtang sirah Nabawiyah. Aku menonton banyak anime, menonton seri interaktif, tapi tetap saja aku rindu sekali mengobrol denganmu. Membicarakan isu penting sampai ga penting. Membicarakan anak anak atau sekadar gosip murahan. Merencanakan ini itu, membandingkan perihal A dan B ketika ingin memilih sesuatu, atau sekadar nonton streaming olah raga di tipi. Sekarang, udah ngga mood lagi nonton voli atau badminton tanpa teriakanmu saat score tercipta.


Hari ini buka puasa pertama di tempat yangti tanpa dirimu. Rame sih, tapi hatiku terasa sepi (tsaah). Sekuat hati kutahan air mata karena membayangkan kalau saja kamu masih ada di sini (ahseek). Oh, masjid masih rame, Alhamdulillah. Allah masih menyayangi dan menggerakkan hati orang-orang untuk merawat masjid itu. Rumah? Bocor, lampu mati, jet shower patah. Di antara sekian banyak hal yang dulu biasanya aku tinggal lapor aja padamu. Sekarang? Nunggu tukang selo tentu saja. Tapi orang-orang begitu baik kepada kami, keluargamu, para tetangga, jamaah Masjid, Allah mengirimkan mereka untuk menjaga kami.


Aku tahu di sana kau sudah terlalu sibuk untuk memikirkan kami, jadi kami berusaha sebaik mungkin untuk survive tanpa hadirmu. Kau telah mengajarkan kami banyak hal, saatnya kami menggunakannya sebagai bekal hidup ini. Ada banyak yang mungkin akan aku ceritakan lagi nanti kalau aku ingat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar