Jumat, 31 Oktober 2014

Terima Kasih, Bapak Parkir

Kamu pernah ngga sih parkir dibantuin sama tukang parkir? Well terutama buat pengendara mobil yang mau parkir paralel atau parkirannya di pinggir jalan raya yang rame lalu lalang kendaraan besar. Dulu waktu saya sering naik motor, jasa tukang parkir ini juga sangat berperan, terutama dalam hal mengeluarkan motor dari jejeran parkir yang padat dan sumpek, kelihatannya nggak bisa keluar tapi ternyata bisa aja gitu keluar dengan gampang. Thanks to you, Mr Parkir.

Semenjak naik mobil (iya Alhamdulillah ada peningkatan), saya paling bersyukur sama tukang parkir yang dengan cekatannya membantu kami kami para wanita yang konon katanya sih memang selalu mengalami kesulitan perihal parkir memarkir. Mungkin karena keterbatasan imajinasi kami yah,jadi sering susah membayangkan ruang parkir yang tersedia.

Saya nggak bisa membayangkan betapa ruwetnya keadaan kalau tukang parkir nggak ada, contohnya di depan sekolah Kakak yang rame lalu lalang karena memang salah satu jalan besar utama. Sialnya, jalan ini sempit banget, cuma bisa dilewatin 2x2 mobil berjejeran (dua arah). Karena itu jasa tukang parkir benar benar berguna mengurai kemacetan jalan.

Kalau yang mau kerja kayak gini mah bayar dua ribu juga hayok aja, nah kecuali yang ngga mau bantuin parkir, hih. Jangan harap kita mau bayar yah. Situ aja ga mau kerja.

-Ditulis di dalam mobil sambil nunggu jam pulang sekolah-

Senin, 27 Oktober 2014

Hidup adalah soal keberanian

Senja ini, ketika matahari turun
Ke dalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
Dan dalam dinginmu
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku
Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
Malam itu ketika dingin dan kebisuan
Menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah”
Dan antara ransel-ransel kosong
Dan api unggun yang membara
Aku terima itu semua
Melampaui batas-batas hutanmu
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup
  - Soe Hok Gie - 


Sejak pertama mengenal puisi ini, aku langsung jatuh cinta pada rasa yang ditimbulkannya. Tidakkah kau juga? Rasanya damai, seakan kita ada di puncak gunung.
Angin berhembus pelan, setiap hembusan nafasmu menjadi kepulan asap yang seketika hilang, jemarimu gemetaran menahan dingin yang mengiris tulang. Entah apakah aku merindukan gunung atau suasana di atasnya, kesunyian yang dihadirkannya, atau pemandangan menakjubkan yang dimilikinya. Membaca puisi Pangrango ini selalu membuat rasa rindu membuncah di dada, rindu nostalgia, mungkin?
Kira kira apa yang dirasakan Gie saat ia membuat puisi ini? Apakah ia sedemikian cinta dengan Pangrango? Dengan mandalawangi dan tumbuhan tumbuhan yang menaunginya? Apakah ia akan mengira bahwa suatu hari nanti yang tersisa darinya, puisi sederhana ini, akan terus dikenang sepanjang masa?
Aku belum pernah ke Mandalawangi, tetapi jika mengingat jurang, dingin dan sepi, mungkin Pangrango mirip dengan gunung yang pernah aku daki.
Mungkin jika aku mengenal puisi ini sebelum menapaki gunung sampai ke puncaknya, aku akan memandang perjalanan itu dulu dengan cara yang berbeda. Amat berbeda.